Berdamai dengan Bencana

Warga berada di dekat kapal TNI AL yang terdampar di jalanan akibat tsunami di Watusampu, Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018.
Warga berada di dekat kapal TNI AL yang terdampar di jalanan akibat tsunami di Watusampu, Ulujadi, Palu, Sulawesi Tengah, 3 Oktober 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Akbar Tado

VIVA – Gempa yang mengguncang Palu, Sigi dan Donggala pada Jumat, 28 September 2018 lalu tak akan bisa hilang begitu saja dari benak Ihsan Fadilah. Meski sekarang sudah berada di Jakarta, ia masih merasakan kengerian ketika berusaha melarikan istri, dua anaknya, dan ibu mereka agar bisa selamat dari gempa kuat yang menghempas tanah mereka.

Sore itu, PNS yang bertugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan itu baru saja tiba di rumahnya di Perumahan Griya Cempaka Alam. Petobo, Palu.  Ia  tiba lima menit sebelum gempa dengan kekuatan 7,4 pada Skala Richter menggoyang keras rumahnya.

"Saya baru saja mau memeluk anak saya yang berusia tiga tahun, ketika tiba-tiba kami berlima terhempas bareng ke lantai. Kami bahkan tak mampu berdiri. Setelah guncangan berhenti, saya bawa keluarga keluar rumah. Tapi saya masuk lagi karena ingat kompor masih menyala. Saya lalu matikan api, dan lemparkan tabung gas. Dan segera lari lagi keluar rumah," ujarnya saat dihadirkan sebagai narasumber di Indonesia Lawyers Club, di tvOne, Selasa, 2 Oktober 2018.

Tak lama gempa kembali terasa. "Di gempa kedua inilah saya mendengar suara keras. Awalnya saya kira tsunami. Tapi saya tak yakin karena jarak kami dengan laut yang ada Jembatan Kuning itu sekitar delapan kilometer. Dan karena kami berada di dataran tinggi, saya tak yakin tsunami akan sampai ke tempat kami. Tapi suara gemuruh itu keras sekali. Kami hanya saling melindungi dan berdoa. Ketika gempa mereda, kami tak berani masuk ke rumah. Malam itu saya dan banyak tetangga memilih berjaga di halaman rumah saya, karena halaman kami yang paling luas," ujar Ihsan melanjutkan.

Satu unit mobil tersangkut di rumah warga akibat gempa dan tsunami, di Desa Loli Saluran, Kecamatan Banawa, Donggala, Sulawesi Tengah, Rabu, 3 Oktober 2018.Dampak gempa bumi dan tsunami di Sulteng 

Pagi harinya, Ihsan baru tersadar sejumlah rumah di belakang rumahnya sudah tersapu lumpur. Banyak rumah yang sudah tak berbentuk, bahkan terjungkir balik. Ia juga melihat sejumlah korban tewas. Ia menghubungkan aliran lumpur itulah yang pada malam itu mereka kira sebagai tsunami.  "Sekarang saya baru tahu istilahnya adalah likuifaksi," ujarnya.

Ihsan beruntung, ia bersama istri, kedua anak, dan ibunda mereka selamat. Setelah itu seharian ia berusaha mencari tahu kabar teman-teman sesama perantau dan mencari makanan untuk mereka. Ihsan juga mendapat informasi bahwa ada pesawat hercules yang bisa membawa ia dan keluarganya ke Jakarta. Dua hari setelah gempa, Ihsan dan keluarganya berangkat ke Jakarta.