SOROT 570

Pahit Getir PB Djarum agar Indonesia Tetap Juara

GOR PB Djarum, Kudus
Sumber :
  • VIVAnews / Satria Permana

VIVA- Pukul 5 sore, tampah-tampah yang digunakan untuk melinting rokok disiapkan dirapikan dan dipinggirkan. Lalu, lantai dibersihkan. Di tengah brak atau gudang pabrik, cat digoreskan membentuk lapangan bulutangkis.

img_title 36 Bibit Muda Bulutangkis Raih Super Tiket, Tantangan Berat Menanti di Karantina

Setelah itu barulah tiang, net, kok dan raket dikeluarkan. Lalu, ditemani aroma tembakau dan cengkeh yang memenuhi ruangan, orang mulai memainkan raket.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Mulanya karyawan Djarum main bulutangkis untuk kebugaran. Seadanya. Tidak ada pelatihan atau program khusus," ujar Robert Budi Hartono, pendiri perusahaan rokok Djarum mengenang sejarah panjang awal mula kemunculan komunitas bulutangkis di lingkungan pabrik tersebut.

img_title Calon Bintang Masa Depan Mulai Terlihat di Audisi Umum PB Djarum 2026

PT Djarum adalah perusahaan rokok besar nasional yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah, yang jadi embrio lahirnya klub bulutangkis legendaris berlabel PB Djarum. Awalnya, di perusahaan Djarum tidak ada klub bulutangkis. Lapangan bulutangkis pun belum tersedia.

GOR PB Djarum, KudusGOR PB Djarum di Kudus, Jawa Tengah

img_title Coach Naga Air Berburu Talenta Muda, Persaingan Calon Pebulutangkis Indonesia Makin Ketat

Bermula dari kebutuhan para karyawan pelinting rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) untuk berolahraga seusai bekerja, dibuatlah lapangan bulutangkis di tengah ruangan tempat mereka bekerja. Jadi setiap sore, pada hari-hari yang ditawarkan, tampah-tampah dipinggirkan jadi lapangan bulutangkis "darurat" yang mulai digunakan sekitar tahun 1969.

Para karyawan Djarum merepresentasikan kecintaan mereka terhadap olahraga tepok bulu di barak rokok kawasan Bitingan Lama (sekarang bernama Lukmonohadi) nomor 35. Kala itu barak Bitingan Lama masih kecil, tapi cukup untuk membuat satu lapangan bulutangkis di tengahnya.

Mereka berlatih rutin di sana dan luas Bitingan Lama pun bertambah beberapa kali, lapangan bulutangkis pun bertambah dua. Tapi, karena pemainnya masih sedikit, kapasitas lapangan sudah cukup.

Setelah kegiatan olahraga sore hari itu terselenggara rutin, muncul keinginan untuk mendirikan klub bulutangkis. Pemrakarsanya adalah Goei Pho Ihay (paman Budi Hartono), Bambang Hartono, Margono dan Thomas Budi Santoso.

"Mereka yang kemudian mendirikan klub PB Djarum,” ujar Robert Budi Hartono, yang kini menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Aktivitas mereka menarik perhatian warga setempat. Dalam setahun, warga mulai memenuhi barak tersebut hanya untuk berlatih bulutangkis.

Maka, pada 1970, latihan bulutangkis mulai dibuka untuk umum. Yang berlatih tidak lagi hanya anggota dan tetapi juga atlet dan peminat dari luar perusahaan, bahkan dari luar Kudus. Manajer klub juga mulai terpikir untuk meningkatkan kegiatan. Bila semula berhasil hanya untuk berolahraga, kegiatan mulai diproyeksikan untuk memperoleh prestasi. 

"Saya pikir kenapa tidak kalau kita bisa menyumbangkan sesuatu untuk Indonesia melalui bulutangkis, kebanggaan nasional, menggalang persatuan. Kita waktu itu sudah melihat bahwa Indonesia paling menonjol di bulutangkis,” ujar Robert Budi Hartono menjelaskan.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut