- Edwin Firdaus/VIVanews.
Jika sebutan 'Taliban' kepada KPK itu dikaitkan dengan aktivitas rohani para pegawainya yang mengamalkan ajaran agama, Abdullah menilai tidak ada yang salah. Sebab, pegawai KPK tak cuma Muslim, ada juga yang beragama lain dan semua diberikan hak yang sama untuk ibadah di KPK.
Menurutnya, di KPK punya Wadah Pegawai yang mengakomodir kegiatan ibadah pegawai, seperti pengajian mingguan bagi pegawai muslim, kebaktian bagi pegawai Kristen, dan juga peribadatan lainnya bagi yang Hindu maupun Buddha.
"Berarti orang-orang (yang menuduh Taliban) itu tidak mengerti falsafah negara. Kenapa orang yang melaksanakan ajaran agamanya dianggap sebagai fundamentalisme, Taliban dan sebagainya?" tanya Abdullah.
![]()
Mantan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abdullah Hehamahua
Bahkan, ujar Abdullah, penyidik dari Kepolisian sendiri yang memintanya untuk menggelar pengajian dua kali sepekan, karena di KPK (gedung lama) tidak punya masjid. "Saya justru terharu ketika itu permintaan itu dari penyidik KPK," ujar Abdullah.
Ramainya isu Taliban di KPK membuat Teungku Zulkarnain ikut berkomentar. Awal September lalu ia menulis status di Twitter dan mengaku sudah mengajar di KPK selama 17 tahun, dan heran mengapa sekarang jadi ramai. Wakil Sekjen MUI ini terkenal dalam aktivitasnya di aksi-aksi yang digerakkan oleh kelompok 212. Pemilu tahun 2019, dengan tegas ia menyatakan dukungannya pada pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Dan ia sering menulis status yang menyerang pemerintah.
Seorang yang berada di dalam tubuh KPK membenarkan Teungku Zulkarnain pernah mengajar di KPK. Namun hanya dua atau tiga kali saja, dan itu bukan acara resmi.
Wadah Pegawai KPK yang disebut oleh Abdullah Hemahua memang ada. Wadah tersebut kini diketuai oleh Yudhi Purnomo, seorang penyidik KPK. Ketika dikonfirmasi oleh VIVAnews, Jumat, 20 September 2019, Yudhi membantah Wadah KPK telah menjadi bibit persemaian radikalisme.
Menurut Yudhi, Wadah Pegawai KPK menaungi berbagai karyawan dengan keyakinan agama yang berbeda. Mereka saling menghormati. Ada pengajian untuk Muslim, dan ada kebaktian untuk Kristen. "Radikal itu pasti tidak cinta dengan NKRI, semua pegawai KPK tidak ada yang tidak dengan NKRI dan Pancasila. Gedung kita itu warnanya merah putih, di depan itu ada logo burung Garuda besar terpampang, kalau kita tidak cinta NKRI dan Pancasila, pasti sudah diturunin itu logo burung Garuda di di depan gedung kita. Upacara bendera, tidak ada pegawai KPK yang tidak upacara bendera. Jadi taliban dari mana? Radikal dari mana?" ujar Yudhi mempertanyakan.