SOROT 590

Dunia Berjaga Wabah Corona

Pemerintah China mengebut pembangunan rumah sakit khusus orang-orang yang terjangkit virus corona dan segala penanganan wabah mematikan itu di kota Wuhan, provinsi Hubei.
Sumber :
  • tvOne

VIVA – Wuhan mendadak sunyi. Keriuhan kota dengan penduduk mencapai 11 juta jiwa tersebut berkurang drastis. Lalu lalang kendaraan dan penduduk dengan segala aktivitasnya tak lagi terlihat sejak virus corona merebak.

img_title China Lakukan Eksperimen Virus Baru Mirip COVID-19 di Wuhan, Elon Musk: Mengkhawatirkan

Baca juga: WHO Nyatakan 'Darurat Kesehatan Global' Virus Corona

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nama Wuhan, kota di Provinsi Hubei, China, menjadi terkenal seantero jagat setelah dampak virus corona menjadi pandemi baru. Wuhan adalah kota pertama tempat virus corona ada dan kemudian menyebar cepat ke berbagai negara. Pemerintah China memutuskan menutup total kota tersebut setelah virus corona terdeteksi berasal dari The Huanan Seafood Market, pasar hewan setempat.

img_title CIA Dukung Teori COVID-19 dari Kebocoran Lab di China, Beijing Minta AS Stop Manipulasi

Virus ini mulai terdeteksi pada pertengahan Desember 2019. Namun tak pernah diperkirakan bahwa penyebarannya membahayakan dan dampaknya bisa mematikan. Pada 31 Desember 2019, pemerintah China sudah melaporkan pada WHO tentang berkembangnya penyakit sejenis pneumonia di Wuhan.

Kota Wuhan locked down akibat merebaknya virus CoronaKota Wuhan di locked down 

img_title CIA Duga Kuat COVID-19 dari Kebocoran Laboratorium di Wuhan, China Bereaksi Keras

Saat itu, kepada WHO pemerintah China juga menyampaikan berbagai penanganan yang telah mereka lakukan untuk menekan penyebarannya. Mulai dari memberikan perawatan kepada pasien, mengisolasi kasus baru, mengidentifikasi pasien, melakukan pelacakan kontak dengan konsisten, hingga melakukan penilaian lingkungan di pasar besar, dan menyelidiki patogen penyebab wabah.

Sayangnya, upaya itu tak memberi dampak signifikan. Sejak pelaporan ke WHO, kasus ini terus berkembang dengan pesat. Dalam dua pekan, kasus ini sudah menginfeksi 544 orang dan 17 orang meninggal dunia. Virus tersebut teridentifikasi sebagai virus novel corona dengan kode virus 2019-nCoV. Virus ini juga dengan cepat menyebar ke 33 wilayah di China termasuk Beijing, Shanghai. Kasus ini juga teridentifikasi di Jepang, Hong Kong, Macau, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, bahkan Amerika.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampaknya, pemerintah China memutuskan me-lockdown kota Wuhan. Seluruh transportasi publik dari dan ke Wuhan ditutup aksesnya. Kegiatan keluar masuk kota juga dibatasi. Huanan Seafood Market lebih dulu ditutup. Hampir semua kegiatan bisnis, pendidikan, dan kegiatan lain dihentikan. Seluruh warga diimbau untuk berada di rumah atau asrama tempat mereka tinggal, dan wajib mengenakan masker di seluruh area publik.

Mahasiswa asal Indonesia, Yuliannova Lestari Chaniago, yang sedang menempuh program S2 Hubungan Internasional di Central China Normal University, Wuhan, mengakui kota tersebut memang bebas aktivitas. Tapi bukan berarti tak ada aktivitas sama sekali. Ia menolak menggunakan kata isolasi dan karantina, karena menurutnya itu tidak tepat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut