- Dokumentasi PRD
Ijtihad “berkoalisi” dengan partai lain ini juga membuat perpecahan baru di PRD. Daniel Indrakusuma, salah satu pendiri PRD, memutuskan mundur dari partai ini. Namun Daniel, ketika ditemui viva.co.id pada Juni 2016 lalu, menolak berbicara soal apa pun terkait PRD.
Setelah Kongres 2010 yang mengubah asas PRD menjadi “Pancasila”, partai ini mencoba menata diri dan lebih realistis. Pemilu 2014 lalu, PRD tidak memaksakan diri menjadi peserta. Mereka kembali menjalankan strategi seperti yang dipakai pada Pemilu 2009, yakni mendistribusikan kader-kadernya menjadi calon anggota legislatif di sejumlah partai politik yang dipastikan lulus sebagai peserta Pemilu. Partai-partai yang jadi saluran kader-kader PRD itu antara lain, Partai Hanura, PDI Perjuangan, dan Partai Gerindra.
Ketiga partai itu dipilih karena dianggap sebagai oposisi terhadap pemerintah yang merupakan koalisi “Sekretariat Gabungan” yang terdiri dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Persatuan Pembangunan. Menurut Agus Jabo, Sekretariat Gabungan dan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah pendukung imperialisme.
Namun kini, untuk Pemilu 2019, Agus Jabo mengklaim partainya kini lebih siap. Kongres PRD tahun 2015 mengukuhkan tekad partai itu untuk menjadi partai politik peserta pemilu mendatang. “Memang keputusannya bulat, (Pemilu) 2019 kita ikut, secara organisasional, entah pakai nama apa nanti.” [aba]