- Reuters/Hannibal Hanschke
VIVA.co.id – Belasan orang berseragam militer menggerompok hutan belukar, di Vincennes, Paris, Prancis, 15 Oktober 1917 silam. Mereka adalah 15 algojo tembak bersenapan laras panjang. Pandangan tajam ke arah perempuan 41 tahun.  Memakai jas biru dan bertopi ,siap dieksekusi.Â
Saat matanya mau ditutup, perempuan itu menolak. Ia ingin melihat semua proses kematiannya. Wanita itu lalu menyempatkan diri melempar ciuman jarak jauh pada tentara yang bakal mengeksekusinya.
Usai aba-aba diteriakkan pimpinan regu tembak, belasan senjata pun menyalak. Â Peluru tajam langsung menerjang tubuh perempuan cantik bernama Margaretha Geetruida Zelle itu. Satu peluru mengoyak jantung, satu peluru lain melesat ke telinga, menembus batok kepala. Ia roboh seketika bersimbah darah.
Margaretha tewas setelah divonis mati pengadilan, karena bertanggungjawab atas informasi yang sebabkan ribuan tentara Prancis tewas selama Perang Dunia I. Dia didakwa menjadi mata-mata Jerman dan diputus bersalah, padahal dia juga tercatat sebagai agen intelijen Prancis. Margaretha dituding agen ganda dan bocorkan strategi perang, serta rincian senjata.
Semasa hidup, dikutip History.com, Margaretha merupakan wanita cantik yang terkenal dengan panggilan Mata Hari. Dia adalah penari telanjang sekaligus pelacur termahsyur. Banyak pria takluk dengan tubuh indahnya. Dia menghangatkan banyak ranjang perwira militer berpangkat tinggi dari berbagai negara, politikus, orang-orang berpengaruh, termasuk jadi tandon pemuas birahi putra mahkota Jerman dan Jules Cambon si diplomat Prancis. Semua rela dilakukan demi rencana spionasenya.
Margaretha lahir di Leeuwarden, 7 Agustus 1876, dari pasangan pengusaha minyak kaya asal Belanda. Parasnya cantik, berambut hitam, kulit coklat, tinggi semampai, dan payudara kecil. Sejak remaja dia sudah binal, bahkan dikeluarkan dari sekolah calon guru taman kanak-kanak karena terlibat skandal birahi dengan kepala sekolahnya.
Saat usia 18 tahun, Margaretha menikah dengan seorang perwira Belanda, Rudolf John MacLeod, yang usianya 20 tahun lebih tua. Pernikahan membawa dia ke tanah Jawa. Margaretha sempat tinggal lama di Ambarawa, Jawa Tengah, dan memupuk ilmu belajar tari-tarian lokal. Dia akhirnya memilih pergi dari suaminya, lantaran pongah pujaan hati yang kasar, doyan mabuk, rajin main serong dan pelihara gundik. Suaminya juga menikah lagi dua kali, Margaretha ditigakan.