- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
"Kami belum bisa lihat dampak nyatanya,” kata Executive General Manager PT Toyota Astra Motor Fransiscus Soerjopranoto.
“Karena orang mau beli mobil itu bukan hanya gembar-gembor di awal saja, tapi melihat seberapa banyak mobil itu di jalan raya."
Selama ini Avanza merajai pasar karena terkenal lebih mudah dipelihara. Didukung pula gerai pemasaran dan layanan purnajual yang berjubel. Jika Suzuki punya 292 gerai, Honda 139 gerai, dan Mitsubishi 90 gerai, Toyota punya 305 gerai.
![]()
Uji performa mobil Avanza di Cirebon. (VIVA.co.id/Dian Tami)
Menurut sejumlah pakar pemasaran, merek kuat saja memang sudah memberi kontribusi peluang bisnis dan menang di pasar sekitar 70 persen, karena ditunjang berbagai hal yang prima. Sisanya sebesar 30 persen tinggal urusan mesin yang prima dan kenyamanan dari penumpang.
Pabrikan mampu memberi kepastian dan jaminan kepada konsumen untuk mengendarai di jalan tanpa ada kekhawatiran mogok dan gangguan. Hingga akhirnya muncul slogan, “Anda tinggal mengendarai, di jalan biar kami yang urus”.
"Hanya yang mampu menciptakan dan memasarkan produk yang betul-betul diinginkan konsumenlah yang laku," kata Pengamat Otomotif Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus.
“Banyak yang sekadar menjual MPV, tapi tidak memperhatikan aspek user experience dari pasar low MPV Indonesia,” katanya, menambahkan.
Berbagai faktor juga mendukung performanya. Seperti lebih murah biaya pemeliharaan karena dukungan bengkel resmi dan mekaniknya lebih friendly, sehingga bisa dilakukan di mana saja jika dalam kondisi darurat di mana pun kendaraan ini bermasalah. (hd)