- ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra
Idenya tentang overpopulasi manusia langsung menarik perhatian dunia, dan membuat WHO tersentak. Terutama gagasannya tentang mengatasi overpopulasi dikenal dengan trans humanisme, yang berlambangkan H+. Dengan gagasan itu, Zobrist menghipnotis orang dan meyakinkan orang bahwa cara terefektif menyelamatkan umat manusia yakni mengurangi populasi hingga sepertiga dari populasi saat ini.
Solusinya langsung ditolak mentah-mentah oleh WHO. Namun idenya tidak bisa dibendung. Ia menyewa konsorsium rahasia dunia, The Mendacium. Zobrist menciptakan wabah yang akan mengurangi populasi dunia secara perlahan.
Wabah yang disebarkan dan ditanam di sebuah tempat tersembunyi merupakan virus yang bertindak sebagai vektor (pembawa) yang akan masuk ke dalam tubuh manusia dengan mengubah struktur DNA manusia. Â
Orang yang terinfeksi virus ini tidak akan merasa bahwa dirinya sedang terinfeksi. Virus ini akan mengubah struktur DNA manusia sehingga manusia yang terinfeksi tidak akan mampu bereproduksi (mandul). Harapannya, wabah itu akan menekan populasi dunia sehingga menjadi sesuai keinginannya, bisa menjadikan populasi dunia tinggal sepertiga dari populasi saat ini.
Cerita soal wabah penyakit yang digagas Zobrist ini merupakan cuplikan dari film Inferno 2016 yang diangkat dari novel Dan Brown.
Wabah Dunia
Namun wabah penyakit tidak hanya muncul di layar bioskop. Di dunia nyata, beberapa wilayah di belahan dunia diketahui beberapa kali terserang wabah penyakit mematikan. Sama halnya dengan wabah berbahaya yang ingin disebarkan Zobrist dalam film tersebut, wabah penyakit yang melanda dunia juga membuat khawatir pemerintah negara bersangkutan dan WHO. Â
Selain difteri di Indonesia, wabah seperti campak pernah melanda Amerika Serikat belum lama ini. Peneliti kesehatan memastikan wabah campak terbesat dalam tiga dekade di Minnesota, AS terjadi karena meningkatnya penolakan terhadap vaksin.
Sejak wabah itu teridentifikasi pada April 2017, muncul 48 kasus campak pada Mei 2017. Sebanyak 46 anak dan balita yang terkena wabah campak merupakan keturunan Amerika-Somalia yang tak divaksin. Departemen Kesehatan Minneapolis dikutip dari CNN, menegaskan orangtua anak-anak korban wabah itu telah menjadi target propaganda antivaksin.
Departemen tersebut juga mengatakan, wabah ini muncul dan menyebar dari komunitas Somalia yang menolak vaksin dengan berbagai alasan. Gerakan antivaksin juga sempat merepotkan Amerika Serikat.