Demonstrasi Santai ala Milenial
- Istimewa
Anak-anak muda itu, menurut Arie, ingin menyampaikan bahwa politik tak mesti disampaikan dengan cara kasar dan kotor. Arie juga menilai, apa yang dituangkan dalam bentuk poster oleh anak-anak muda itu adalah ekspresi yang selama ini terakumulasi di media sosial.
"Jika selama ini mereka hanya menyampaikan protes dan kritik mereka melalui media sosial, karena ini mereka tuangkan dalam bentuk poster ketika mereka merasa sudah waktunya turun ke jalan," ujar Arie kepada VIVAnews, Selasa, 24 September 2019.
Menurut Arie, dengan cara penyampaian yang lebih ringan, mahasiswa tak terlalu tergerak untuk melakukan tindakan anarkisme. Sosiolog UGM tersebut mengakui cara kritik yang lebih santai itu justru memberi pesan baru bahwa ada anak-anak muda yang mampu memadukan kritik dengan estetik dan keindahan.
"Problemnya adalah, apakah pesan-pesan tersebut mampu ditangkap publik sebagai sebuah critical mass. Karena pesan-pesan tersebut memang disampaikan dengan cara yang lebih ringan, padahal substansi pesannya sangat mengena," Arie menjelaskan.
Bagi Arie, setiap orang menghadapi berbagai problem sosial, termasuk anak-anak milenial dan generasi Z. Mereka selama ini memilih media sosial sebagai sarana mereka untuk menyampaikan kritik kepada pemerintah dan DPR. Tapi kali ini, mereka melakukan cara berbeda dengan ikut ambil bagian dari mereka yang turun ke jalan.
Kreativitas mereka tak berhenti. Melalui poster untuk demonstrasi, ide-ide segar yang biasanya disampaikan melalui media sosial kali ini dituangkan dalam bentuk tulisan nyata.
Arie menjelaskan, meski turun ke jalan, kelompok ini sadar mereka tak ingin misi kritik dan misi perbaikan yang mereka bawa terseret dalam rawa-rawa politik, yang bisa membuat mereka semakin tenggelam jika mereka berusaha masuk. Kritik dengan cara satire itu justru mendaratkan politik yang selama ini terbangun dengan image keras dan kasar menjadi lebih membumi.
Memang ada anak-anak muda lain yang mempertahankan cara lama, tapi nanti publik yang akan segera menentukan, siapa yang paling banyak disukai. Fenomena media sosial memperlihatkan dengan cepat, bagaimana respons publik pada sebuah masalah. Jangan dilihat seberapa jauh kritik itu disampaikan, tapi lihatlah apakah kritik itu bisa membawa perubahan.