- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Presiden belakangan banyak mengurangi proses izin, apakah berdampak tingkat layanan publik bisa lebih baik?
Nanti dulu juga, kita ini kan yang jadi soal karakter melayaninya yang lemah, bukan persoalan pintunya. Jangan juga atas nama investasi kita bablas, kalau persoalannya di mental, akhirnya kita mencari sistem yang baru terus, yang salah ini apa, padahal yang salah bukan sistemnya, tapi orangnya, yang membentuk sistem kan orang, anda mau bentuk sistem bagimana pun, anda yang enggak beres, tetap enggak beres jadinya.
Apakah artinya pengurangan izin ini tidak lebih baik untuk pelayanan publik?
Kalau untuk kecepatan urusan mungkin, tapi mesti dipikirkan juga cepat itu serta merta baik bagi masyarakat. Tapi jangan atas nama investasi kita mem-by pass, sebenarnya ini hanya karena proses-proses izin ini disalahgunakan, coba kalau bangunan enggak usah pakai Amdal (Analisis Dampak Lingkungan), kacau dunia ini. Oleh karena itu bukan pada apa syaratnya, tapi penyalahgunaan apa yang menjadi syarat.
Pimpinan Ombudsman orang baru semua, ada kendala untuk kolektif kolegial?
Saya sejujurnya, saya bukan mengarang-ngarang, tapi menurut saya semua orang berpengalaman semua, bukan pengangguran, orang tiba-tiba enggak ada pekerjaan. Saya merasa tim ini kompak, saling bahu membahu, saya merasakan itu. Sejauh ini tidak ada yang mengganjal, ini yang harus kita jaga. Kalau tidak ada kepentingan pribadi apa yang harus diributkan, kita kan enggak punya agenda tersembunyi.
Rapat selalu cair suasananya?
Menurut saya iya, saya enggak pernah lihat orang pukul meja.
Ada perubahan saat Anda menjadi dosen ke lembaga negara, suasana berbeda apa yang dirasakan?
Terus terang saja tempat saya yang dulu lebih bagus. Sistem kerjanya, segala macam. Artinya di sini tantangan saya orang bisa disiplin, di tempat lama kan sudah disiplin.
Apa sistem internal yang perlu diperbaiki?
Penggunaan IT harus diterapkan di Ombudsman, bagaimana orang setiap saat bisa mengecek perkembangan laporannya. Saya sekarang paperless untuk berhubungan dengan kepala perwakilan, waktu pertama masuk kebayang enggak setiap kepala perwakilan kirim surat, banyak sekali, dan yang dikirim itu tidak penting. Akhirnya saya bikin sistem, hanya boleh menghubungi saya lewat internet, email.