- instagram.com/vinogbastian__
Gundala Putra Petir, yang meski ceritanya fiksi serta jelas terlihat pengaruhnya dari superhero Amerika, baik desain kostum dan jenis kekuatannya, namun berangkat dari legenda dan unsur budaya asli Indonesia. Alur ceritanya pun benar-benar bergaya Indonesia.
Hal tersebut pula yang membuat sutradara kawakan Joko Anwar memilih untuk membidani kelahiran film layar lebar Gundala, yang proses produksinya bakal dimulai dalam waktu dekat. Kata Joko, dirinya tumbuh dewasa dengan membaca komik Gundala dan komik-komik besar Indonesia lainnya.
Meski begitu, memang Gundala yang punya tempat khusus di hatinya, karena sejak kecil ia sangat menyukai karakter Gundala, peneliti jenius yang menemukan serum anti petir. "Zaman dahulu enggak ada hiburan lain. Hiburan aku ya nonton film dan baca komik gundala, jagoan asli Indonesia. Jadi kayak ada kebanggaan tersendiri gitu," ucap Joko.
![]()
Gundala adalah tokoh komik bergenre fantasi ciptaan Harya Suryaminata atau biasa disapa Hasmi. Superhero ini muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada tahun 1969. Film Gundala yang bakal dibuat Joko Anwar bukanlah film pertama. Sebelumnya juga sempat dibuat film Gundala Putra Petir tahun 1982 silam, dengan latar tempat di Jakarta, meski lokasi cerita di komiknya sering digambarkan di Yogyakarta.
Terdiri dari 23 judul seri yang terbit tahun 1969-1982, Gundala tercipta menyusul popularitas komik superhero era 1960-an. Itu ditandai dengan fisik Gundala yang terinspirasi dari The Flash, karakter superhero ciptaan Gardner Fox dari DC Comics.
Hasmi pernah mengatakan, bahwa ide kekuatan Gundala, yakni memancarkan geledek dari telapak tangannya didapat dari tokoh legenda Jawa, Ki Ageng Sela yang konon punya kemampuan menangkap petir, diketahui dari naskah-naskah babad yang dipercayai masyarakat Jawa.
Berkaca dari komik superhero Amerika yang menyiratkan situasi politik di era Perang Dunia ke-2, kisah superhero Indonesia ada juga yang menyisipkan beberapa sindiran halus berhubungan dengan kondisi sosial politik.
Misalnya saja dalam buku cerita silat (cersil) Wiro Sableng ciptaan Bastian Tito, seperti diungkapkan oleh Sheila Timothy, produser film 212 Warrior yang sedang dalam tahap produksi. Produser Lifelike Pictures, rumah produksi pemegang lisensi 185 buku cersil Wiro Sableng itu mengatakan, bahwa ada tiga golongan yang digambarkan dalam dunia Wiro Sableng sejak cersilnya pertama kali terbit tahun 1967,