- instagram.com/vinogbastian__
Superhero Lokal
Sejak Superman muncul di komik Amerika Serikat tahun 1938, karakter-karakter bertema hampir sama pun tercipta. Bukan cuma di Amerika, namun juga di negara-negara yang terpengaruh budaya pop Amerika terutama budaya komik. Tentu saja, dalam hal ini Indonesia tak terkecuali.
Di Tanah Air sendiri, tidak diketahui pasti siapa karakter superhero yang pertama kali diciptakan. Di awal tahun 1950-an ada beberapa komik superhero yang diterbitkan, seperti Sri Asih dan Siti Gahara karya RA Kosasih serta Putri Bintang dan Garuda Putih ciptaan Johnlo.
Yang pasti, Sri Asih lah superhero pertama yang dibuat menjadi film layar lebar, yaitu di tahun 1954. Sayang, copy film dan materi promosinya sudah musnah. Hal itu diungkapkan oleh Andy Wijaya, Commercial General Manager Bumilangit Entertainment Corpora.
Bumilangit adalah perusahaan hiburan berbasis karakter di Indonesia yang mengelola pustaka karakter terbanyak, lebih dari 500 karakter-karakter komik yang telah diterbitkan selama enam puluh tahun terakhir. Andy bahkan mengatakan, ada lebih dari 1.000 karakter superhero yang berada di bawah naungan perusahaannya, termasuk yang sudah punya nama besar, seperti Sri Asih, Si Buta Dari Gua Hantu, Gundala, Godam, Nusantara dan masih banyak lagi. Itu yang membuat pihak Bumilangit ke depannya berencana membuat Avengers versi Indonesia dengan superhero lokal.
![]()
Menurut Andy, berbeda dengan di Amerika, di mana komik superhero dijadikan propaganda Perang Dunia ke-2, di Tanah Air karakter superhero serta ceritanya lebih bercorak Indonesia.
"Kalau di Bumilangit ada dua bagian, superhero dan jawara (para pendekar klasik, martial arts, silat). Gundala latarnya mistis, kalau di komiknya dia seorang ilmuwan yang pengin bikin serum anoda anti petir, supaya siapapun yang tersambar petir enggak apa-apa. Akhirnya malah dia kesambar petir. Sejak diputusin sama pacarnya Minarti, dia kan cowok mellow, lari sampai perbukitan kesambar petir terus dibawa ke kerajaan petir, itu mistis. Karena Pak Hasmi (penulis Gundala Putra Petir) memang buat itu karena masyarakat agraris lebih kepada mistis," ujarnya saat diwawancara VIVA belum lama ini.