- ANTARA FOTO/Embong Salampessy
VIVA.co.id –
Yo pro konco dolanan ning jobo
Padang bulan, padange koyo rino
Rembulane sing ngawe-awe
Ngelingake ojo podo turu sore
Ayo kawan-kawan kita bermain di luar
Terangnya bulan, seperti siang hari
Bulan seperti memanggil-manggil
Mengingatkan untuk tidak tidur sore hari
Penggalan lirik lagu berbahasa Jawa itu begitu sederhana. Pilihan katanya mudah dinyanyikan anak-anak di masa itu.
Berisi ajakan untuk bermain dan berkumpul bersama. Ruang terbuka jadi pilihan. Tujuannya tak lain adalah kegembiraan.
Ya, bermain adalah dunia gembira. Sebuah ajang kebersamaan untuk berbagai ruang bahagia.
Harapan itu sepertinya yang ingin dicapai lewat ajang pameran dan gelar permainan tradisional yang dihelat di Bendara Budaya Jakarta. Mengajak masyarakat untuk menengok dan menyelami kembali ruang gembira lewat permainan anak.
General Manager Bentara Budaya Jakarta, Frans Sartono, dalam materi pengantar pameran bertajuk "Menyelami Kegairahan Masa Kecil" itu menilai, perubahan zaman telah meminggirkan permainan tradisional anak.
"Boleh dikatakan, permainan anak ini sebagai kekayaan budaya yang nyaris punah," tulis Frans dalam pengantarnya.
Dan, harapan itu pun sepertinya ingin terus diwujudkan, di saat permainan modern menggempur, seiring pesatnya perkembangan teknologi. Tak ayal, dalam pameran yang berlangsung selama sepekan, 22-28 Februari 2017, ratusan permainan tradisional dipamerkan.
Penyelenggara berharap antusiasme pengunjung untuk "kembali" ke masa kecil. Menyelami kembali kegairahan bermain, berkumpul, dalam ikatan kebersamaan.
Bagi anak-anak di masa sekarang, tentu saja harapannya adalah mengenal ribuan mainan tradisional di Tanah Air. Tak hanya mengenal, tapi juga memainkannya.
Seperti terlihat pada Selasa 28 Februari 2017. Siang itu, bangunan seluas lapangan futsal sudah ramai dengan puluhan anak. Mereka berkejaran dan berlarian. Berteriak riang.
Sepatu mereka berdentum dan berdecit, saat beradu dengan lantai keramik berwarna kecokelatan di bangunan itu. Suasana ceria tampak di wajah mereka.
Mereka asyik bermain. Ada juga yang berkelompok di sudut ruang. Suasana riang itu seakan ingin menghidupkan kembali keceriaan yang pernah terjadi di usia mereka, di masa lalu.
Tak hanya anak-anak, pengunjung dewasa pun cukup antusias. Mereka mencoba untuk memainkan sebagian dari ratusan koleksi mainan tradisional. Mulai dari gasing, perahu klotok, congklak, bakyak, hingga egrang bambu.