SOROT 463

Tergiur Legitnya Bisnis Umrah

Iming-iming promo umrah murah memikat banyak jemaah untuk pergi ke Tanah Suci.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Eko Priliawito

"Jadi ada dua sebenarnya kalau analisis saya. Pertama, kalangan masyarakat menengah ke bawah ini menjadi harapan mereka untuk berangkat ke Tanah Suci karena memang harganya jauh lebih terjangkau," kata Muharom kepada VIVA.co.id, Kamis, 24 Agustus 2017.

img_title Datangi Kejari Depok, Korban First Travel Minta Aset Segera Dikembalikan

Kedua, bagi kalangan menengah, yang menjadi agen, niat mereka sebenarnya ikutan promo ini bukan untuk berangkat ke Tanah Suci. Tapi menjadikan ini sebagai cara berinvestasi, karena yang mereka kejar adalah fee-nya. Para agen ini ada yang menalangi uang jemaah untuk disetorkan ke First Travel.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Di mana uangnya itu lebih dulu masuk dalam jumlah besar. Karena agen ini biasanya menutupi 100 jemaah atau 200 jemaah," ujarnya.

img_title Pengacara Sebut Ada Aset Bos First Travel yang Raib

Dengan harapan disimpannya uang atas nama 100 atau 200 jemaah atau bahkan ada yang hingga 500 jemaah itu, mereka mendapatkan fee yang berkelanjutan. 

Promo umrah murah disertai tawaran menjadi agen dengan iming-iming fee besar ini memang marak terjadi. Dalam beberapa kasus, promo ini modusnya adalah dengan memberikan jargon 'Cepat kaya raya dengan memberi kesempatan orang pergi ke Tanah Suci'. Dengan kata lain, pola agen seperti ini intinya memperbanyak jaringan atau downline.

img_title First Travel Salahkan Negara karena Gagal Tunaikan Tuntutan Jemaah

"Jadi ada kaitannya antara mencari orang ke Tanah Suci dengan mendapatkan pendapatan. Nah, yang seperti itu sering dan banyak sekali," kata dia.

"Bisa dilihat di iklan-iklannya di televisi, di radio dan sebagainya, yang banyak mengangkat dari sisi keuntungan bisnis," tutur Muharom.

Dalam beberapa kasus, modus penipuan umrah ini yang lebih banyak menjadi korban adalah masyarakat kalangan menengah ke bawah. Pada 2016, hampir 11.000 orang yang gagal berangkat, dan tahun ini, khusus First Travel saja bisa tembus angka 58.000 orang. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi saya melihat, semakin ke sini, modus seperti seperti ini pasti akan terkuak," ucapnya. "Nah, kalau tahun depan terus dibiarkan modus yang seperti ini, korbannya akan semakin banyak". 

Karena, dia melanjutkan, modus yang seperti ini, pada 2017 saja indikasinya sudah ada empat travel. Ada yang di Bogor dan  Jawa Tengah. "Karena apa? Memang yang menggunakan pola seperti FT ini banyak juga," tuturnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut