Perang Melawan Sampah Plastik

Pengelola supermarket menempel stiker pengumuman penerapan aturan Bogor Tanpa Kantong Plastik (Botak) di Lippo Plaza Ekalokasari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 1 Desember 2018.
Pengelola supermarket menempel stiker pengumuman penerapan aturan Bogor Tanpa Kantong Plastik (Botak) di Lippo Plaza Ekalokasari, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 1 Desember 2018.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

VIVA – Sekelompok anak terlihat berbaris sambil membawa sekantong sampah yang mereka bawa dari rumah. Isinya rata-rata sampah plastik seperti botol dan kemasan bekas makanan. Beberapa guru masih berusaha mengatur antrean dan meminta anak-anak agar tetap tertib.

Anak-anak dari SD DDI Kota Palu yang berbaris itu nampak tak sabar. Mereka ingin menukar sampah-sampah yang mereka bawa dengan hadiah botol minum isi ulang dan sedotan yang terbuat dari bambu.

Sepekan sebelum tsunami menghantam kota Palu, VIVA berkesempatan meliput aktivitas LSM Divers Clean Action membersihkan sampah laut bersama Seangle, komunitas anak muda Palu yang peduli permasalahan sampah plastik di lingkungannya.

Salah satu program LSM ini adalah melakukan edukasi kepada masyarakat dan sekolah-sekolah bagaimana memilah sampah plastik, mendaur ulang hingga bagaimana mengolah sampah menjadi uang.

Switenia, Founder Divers Clean Action mengatakan, Indonesia adalah negara terbesar ke-2 yang berkontribusi pada puing sampah plastik di laut dunia. Hal itu sangat menyedihkan, mengingat bahwa Indonesia merupakan negara kelautan.

"Setidaknya, 1,29 juta ton sampah plastik dihasilkan setiap tahun atau setara 200 ribu kali lipat berat gajah Afrika dewasa. Indonesia bisa dibilang sedang menghadapi darurat sampah plastik," ujarnya kepada VIVA beberapa waktu lalu.

Divers Clean Action dan tim Seangle