SOROT 571

KPK Dikebiri

Keranda Mayat di KPK.
Sumber :
  • Edwin Firdaus/VIVanews.

VIVA – Selasa siang, 17 September 2019, aktivitas di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berjalan seperti biasa. Tim penyidik lembaga antikorupsi tetap memeriksa para saksi terkait sejumlah perkara korupsi yang tengah ditangani. Bahkan, di hari yang sama tim penyidik menggeledah tiga kantor dinas Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terkait kasus dugaan suap dan gratifikasi yang menjerat Gubernur Kepri Nurdin Basirun.

img_title Istana Tegaskan Tak Ada Rencana Kembalikan UU KPK Versi Lama

Sekitar pukul 19.00 WIB, setelah aktifitas perkantoran berakhir, suasana berubah suram. Lampu-lampu utama yang menerangi pelataran dipadamkan. Satu persatu pegawai KPK melangkah keluar lobi dengan wajah ditutup masker sambil memegang bendera kuning.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lantunan lagu “Darah Juang” karya John Tobing, “Yang Patah Tumbuh yang Hilang Berganti” ciptaan Banda Neira, dan Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” pun mengalun sendu mengiringi langkah gontai para pegawai yang kemudian berkumpul bersama ratusan orang lain termasuk aktivis antikorupsi di pelataran Gedung KPK.

img_title Dituding Hasto Sebagai Dalang Revisi UU KPK, Jokowi: Itu Karangan Cerita

Tiga pimpinan KPK konferensi pers nyatakan kembalikan mandat ke Presiden JokowiPimpinan KPK menyerahkan mandat ke Presiden Jokowi
 

Mereka menghadiri 'pemakaman' KPK yang dinilai telah mati saat Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, mengetuk palu tanda disahkannya UU KPK baru di Rapat Paripurna, Selasa siang, 17 September 2019.

img_title Nawawi Pomolango Sindir DPR Revisi UU KPK: Menarik, Tiap Ganti Pemimpin Aturan Diubah

"Malam ini kita semua berduka, kita sudah mendengar bahwa gedung di belakang ini bukan lagi akan menjadi benteng terakhr pemberantasan korupsi," kata Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Asfinawati dalam orasinya saat prosesi pemakaman KPK. Hampir 15 menit Asfin menyampaikan orasinya tentang pelemahan KPK.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Usai Asfin orasi, pentolan grup band Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud langsung memetik gitarnya. sayup-sayup musikalisasi puisi karya Widji Thukul berjudul 'Bunga dan Tembok' menggema. Petikan gitar dan suara Cholil mengiringi replika nisan KPK yang dibawa sejumlah orang. Tidak hanya pusara, poster-poster bertuliskan 'KPK sudah mati' pun dibentangkan.

"Mari dengan suasana hening kita hanya berdoa, karena hanya doa yang bisa mengubah sesuatu. Ketika usaha kita terasa sia-sia, ketika kita tidak menemukan jalan keluar, yakinlah Tuhan bersama bangsa ini. Tuhan tidak akan membiarkan negeri ini akan hancur karena korupsi," kata seorang pegawai KPK.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut