Perusahaan Indonesia Jangan Takut Perubahan
- VIVA.co.id/Amal Nur Ngazis
Ini pertama yang kami lakukan.Â
Berbarengan dengan (kerja sama) Kementerian Tenaga Kerja, kami lagi berpikir men-training ulang skill di market dan lain-lain agar bisa di-consum IBM dan pelaku industri kain, Kan karena lack off skill-nya banyak.Â
Last but not least, ada yang bisa dikerjasamakan enggak dari dengan pemerintah dari sisi cyber security atau smart city, minimal dua hal ini, kami melihat pemerintah perlu bisa melihat apa yang dilakukan. Karena smart city as a concept, support untuk meningkatkan kinerja skill PNS-nya. Keamanannya bagaimana. Terus bagaimana pemerintah gunakan dana untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.Â
Contoh bicara soal bantuan tunai atau subsidi pupuk. Punya enggak sih data mengenai daerah mana butuh pupuk, distribusi pupuk itu kan enggak bagi rata begitu kan. Yang dilihat kan bukan sebatas tanamannya butuh pupuk apa, tapi kondisi cuaca dan tanahnya bagaimana.
Jangan sampai dikasih pupuknya sama jumlahnya. Jangan sampai pupuk dijual ke tengkulak kemudian dijual lagi dengan harga yang tinggi. Itu contoh sederhana saja. Datanya banyak yang bisa dilakukan.Â
Bagaimana gambaran smart city di Indonesia?
Aspirasi kami kami ingin semua kota dan elemen pemerintah yang melayani masyarakat bisa lebih efisien, bagaimana bisa mendekatkan antara citizen dan government, agar punya interaksi dan pelayanan bisa tingkatkan.Â
Kedua, dari sisi bagaimana pemerintah menggunakan data dan aplikasikan untuk berikan aturan yang lebih baik, misalnya berupa tax, berupa pelayanan kepada masyarakat. Keputusan apapun based on data. Karena itu penting, apalagi kaitan sama data.Â
Soal bagaimana pemerintah bisa melihat proteksi terhadap informasi dan data strategi security, menurut saya tidak sekadar melihat keamanan data, tapi harus menyeluruh. (ren)