Perusahaan Indonesia Jangan Takut Perubahan
- VIVA.co.id/Amal Nur Ngazis
Kalau belum cognitive computing itu, ngerti enggak 100 orang itu sebenarnya ngapaian saja. 100 orang sesak penuh atau enggak, 100 orang bagaimana posisinya. Itu komputer terprogram, kalau tak diprogram identifikasi kan, otaknya kan cuma bisa nerima sensor doang kan. Kecuali bisa diperintah.Â
Nah sistem yang belajar bisa lihat, oh pada 100 orang, ada satu yang gerak geriknya beda dan mencurigakan. Nah ini bisa baca pattern-kan. Nah ini yang tadi take the picture and reasoning and alert. Last but not least, sistem belajar untuk interaksi, agar sistemnya harus belajar komunikasinya dengan cara yang lain-lain. Makanya bisa text to speech, speech to text, bisa berkomunikasi misalnya bisa kirim signal, kirim SMS bisa, bisa kirim suara, itu pilihan. Nah itu yang disebut cognitive computing.Â
Bagaimana Penerapannya?
Banyak. Mulai yang awal-awal sekali IBM sudah sekian tahun terakhir bersama dengan Memorial Sloan Kettering Cancer Center (MSKCC) di New York untuk membuat analisis Watson, komputer IBM itu bisa bantu ahli kanker, dokter kanker di seluruh dunia.
Tujuannya belajar dari semua data jutaan pasien dan kasus kanker di seluruh dunia ditambah cara dokter MSKCC ini menganalisa diagnosis pasien, sehingga Watson setelah diajarin tingkat akurasinya di atas 90 persen, Watson bisa menjadikan dokter atau onkologis baru yang belum punya pengalaman tinggi, kalau dia punya Watson maka ada kasus pasien masuknya datanya ke Watson.
Maka Watson akan memberikan diagnosanya seperti ini, dan kasus yang ada 90 persen kemungkinan akan seperti ini. Kalau kasusnya seperti ini untuk memverifikasi supaya bisa menjadi keyakinan di atas 95 persen kayaknya harus satu dua tiga, satu ngapain, dua ngapain dan tiga tindakannya seperti apa.Â
Kalau sekarang kan enggak, malah bingung. enggak seperti Watson. Kalau dokter yang belum pengalaman, menjalankan tes 1 sampai 20. Baru cari datanya, baru lakukan ini enggak ngerti. Kalau Watson akan bilang 90 persen kasusnya akan seperti ini, tingkat keyakinannya, supaya mengerucut.Â

Presiden Direktur PT IBM Indonesia, Gunawan Susanto
Kalau dokter enggak pengalaman kan enggak ngerti. Kalau yang pengalaman maka akan bisa lakukan langkah. seberapa banyak dokter yang pengalaman. Makanya tujuan Watson dalam hal ini adalah enggak cuma sekadar berikan bantuan pada dokter yang belum punya jam terbang tinggi, bisa meningkat kualitasnya.