Perusahaan Indonesia Jangan Takut Perubahan
- VIVA.co.id/Amal Nur Ngazis
Kalau cuma pekerjaan repetifif dan sederhana kurangi human error itu serahkan ke asisten. Contohnya saja, dosen periksa ujian, itu butuh asisten karena jawabannya sudah pasti, berarti pekerjaan kasih ke asisten.Â
Tapi kan kadang ada mahasiswa protes dengan nilainya, itu berarti human error. Caranya diserahkan ke sistem. Tapi sistem tak akan me-replace dosen. Misalnya ada anak pinter terus karena keluarganya ada yang sakit dia enggak ikut ujian, makanya dia akan tidak lulus kan kalau berdasarkan mesin.Â
Kalau guru yang bilang, akan pertimbangkan. makanya mesin tidak akan bisa judgedment seprti itu. Mesin enggak tahu keluarganya lagi sakit. Guru bilang, oh iya keluarganya sakit makanya dimaklumin dan akhirnya diluluskan, kan kasihan itu. Prinsip pertama tidak me-replace human.
Kedua, data transparansi. Ini penting misalnya dalam kasus onkologi, tanpa saya cerita teknologinya, Anda kalau sakit saya nanti minta pakai teknologi Watson saja. Ini kan sama halnya kita sakit terus diminta minum teh tapi tanpa tahu alasannya kenapa. Tapi kan Watson itu misalnya kemudian bilang berdasarkan riset dan rasionalisasinya, teh itu mengandung antioksidan, di minum dalam suhu sekian maka akan membuat begini, makanya akan berdampak lain.Â
Kalau Watson sudah tahu dan terkoneksi data dan hasil yang terpercaya, kan akan menghasilkan hal terpercaya. Oh di belakang Watson ini jelas siapa, datanya jelas, maka tingkat kepercayaan kita untuk pakai sistem Watson maka akan meningkat kan.Â
Coba tiba-tiba, Anda kalau mau jualan online enggak tahu. tiba-tiba kalau mau bagus dikasih tahu begini begini. Datanya dari mana? betul kan. That exactly, yang mana data transparansi itu penting.Â
Tapi data transparansi, IBM juga punya konsep karena fokusnya di enterprise. Data enggak mau melanggar hak cipta orang. Kita enggak mau pakai data sebuah perusahaan kemudian diagregat dengan semua perusahaan lain, di-share ke semuanya lagi dan dipakai untuk kita sendiri. Kita enggak begitu. Karena kita menghargai hak kekayaan intelektual.Â
Kalau perusahaan itu punya data ya itu menjadi halnya perusahaan itu. Dia yang cari datanya, bukan dengan memakai IBM maka datanya jadi hak cipta IBM, enggak begitu. Ini pentingnya data transparansi.Â