Perusahaan Indonesia Jangan Takut Perubahan
- VIVA.co.id/Amal Nur Ngazis
Jadi dikasih pakai, nilainya besar enggak bayar, dipakai dalam setahun untuk ngejar development gila-gilaan,  agar bisa up scale dan menggunakan semua teknologi canggih ternyata di Indonesia ini enggak bisa. Tujuannya setahun bisa scale, enggak tuh, belum (di Indonesia).
Artinya ini skill CTO dan segala macam kan ini kurang, makanya kami beri chance, karena bukan hanya gembor-gembor terus, tapi ternyata enggak dipakai juga. Makanya kami luncurkan mentoring dari IBM, kami training terus kasih akses lot IBM technical resources, bukan teknologinya ya, karena kami harus beri beri nasihat soal arsitekturnya harus seperti ini, keamanan dan desainnya seperti ini. Itu perlu, itu yang kami lakukan untuk startup dan UKM-nya.Â
Ada banyak stage startup, yang mau ekspansi dan grow up lebih cepat kami bisa bantu melakukan strateginya, bagaimana belajar dari IBM. Ini perlu dikasih pola pikirnya itu lebih penting, bukan cuma disekadar dikasih uang dipakai, ini enggak.Â
Ini yang sedang kami lakukan. Dan salah satu manfaat lainnya kami punya akses ke perusahaan lokal, perusahaan BUMN dan perusahaan yang sudah establish, mereka butuh ide kreatif, startup punya ide kreatif enggak punya pasar dan kustomer. Jadi kami menjadi matchmaker untuk mempertemukan mereka.Â
Kami bantu enterprise bantu hackathon jaring startup, startup terjaring kami kasih pelatihan dan bantuan. Startup yang dekat dengan kita, maka kita promokan, beri insight agar mereka bisa berada dalam satu ruangan dengan business leader.
Bagaimana IBM menjalin mitra dengan pemerintah Indonesia ?
Selama ini kami bantu pemerintah dalam dua hal. Pertama di sisi technology adviser, kami bantu beri masukan ke pemerintah.
Misalnya ada teknologi baru seperti apa, kan butuh aturan main, butuh antisipasi seperti apa. Kami mengambil peranan menjadi yang ketok pintunya, kasih tahu ini (tren teknologi) akan begini, kami cerita.
Misalnya blokchain, kami ambil inisiatif kasih nasihat ke pemerintah. Begini lho di dunia sedang terjadi apa, mereka perlu tahu kalau blockchain diadopsi justru mereka tak ketinggalan, bisa tahu (adopsinya).Â