Indonesia Jadi Bukti Persatuan dalam Keragaman
- VIVA/M Ali Wafa
Europalia di Brussel, Belgia sendiri bagaimana responsnya?
Bagus. Saya kira yang signifikan dari Europalia karena konteks waktu juga. Eropa nih sekarang, apalagi Eropa Barat, Brussel sendiri pernah diserang dua kali sama bom. Dengan itu jadi krisis pengungsi, Syria, Timur Tengah sampai sekarang masih masalah. Tahun lalu puncaknya, orang berenang melintasi laut. Semua kejadian-kejadian itu menimbulkan misrepresentasi di dalam masyarakat Eropa tentang orang lain, tentang orang yang datang dari luar, dari Asia, dari Arab, orang Islam. Itu sangat terpengaruh. Mereka lihat itu seperti ancaman, orang-orang yang enggak jelas dari mana datang terus tiba-tiba beranak pinak di Eropa sendiri dan timbul banyak pertanyaan. Kita datang memperlihatkan bahwa banyak stereotip di Eropa mengenai masyarakat non-Eropa itu enggak benar.
Jadi pendapat mereka tentang orang Islam itu yang dibayangkan cuma ISIS dan segala macam. Kita adalah negeri dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Bahkan boleh dibilang negeri dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, tetapi beragam. Macam-macam. Dan terlepas dengan problem yang selama ini muncul soal politik identitas, masih bagus-bagus saja. Nah, ini yang kita mau tawarkan melalui pertunjukan-pertunjukan. Mereka heran. Awalnya kita kasih pembukaan tarian dari Cirebon, saman dan kemudian Papua. Jadi tiga yang sama sekali berbeda satu sama lain. Itu saja buat mereka sudah mencengangkan sekali. 'Kok bisa ya masyarakat yang begitu berbeda satu sama lain tapi ternyata bisa hidup berdampingan?'
Sementara mereka sekarang negerinya kecil-kecil, tapi ketakutannya terhadap orang lain begitu besar. Jadi kembali dengan kita. Kita ini suatu bukti bahwa persatuan dengan keragaman itu sebenarnya mungkin. Tapi yang lain-lain sih, tontonan bagus. Yang tengah itu pameran Anchestors sudah ada 900 grup yang memesan. Jadi nanti setiap hari isunya rombongan orang yang ada guide-nya di samping penonton yang sifatnya individual. Pertunjukan-pertunjukan kita laku di Polandia. Bagus, besar. Ada Iwan Gunawan, Eko Suprianto. Tari juga sukses besar.
Yang paling ujung itu art kita tentang tradisi maritim kita. Ada mbahnya pinisi. Kalau pinisi kan kreasi baru. Ini kapal namanya padewakang. Tradisi pembuatan kapal di Sulawesi Selatan yang sangat terkenal. Karena biasanya kapal itu dibikin rangkanya dulu baru kulitnya. Ini enggak. Kulitnya dibikin dulu baru rangkanya. Itu sebagai teknologi juga mencengangkan karena enggak pakai paku. Jadi semuanya cuma pasak kayu dipanaskan. Ukurannya juga pakai tubuh, enggak pakai meteran. Kapal-kapal ini pernah berlayar ratusan tahun lalu sampai ke Eropa sana. Jadi buat mereka itu juga mencengangkan. Ternyata kita punya tingkat pengetahuan, teknologi yang enggak kurang-kurang di masa lalu.