Indonesia Jadi Bukti Persatuan dalam Keragaman
- VIVA/M Ali Wafa
Nah, kita berharap yang kayak begini bisa datang. Tapi datang bukan cuma untuk saya mau pentas dibayar sekian. Bukan. Mereka datang untuk ikut merayakan kebudayaan gamelan. Ini yang terjadi, yang saya bilang, hubungan antardaerah juga mulai terjadi. Jadi enggak setiap kota, 'Saya juga ingin punya festival'. Nanti yang dibunyikan gamelan semua. Ya kenapa enggak digabung jadi satu? Pusatnya oke di Solo, kegiatannya tapi bisa di Wonogiri, di Blora, Tegal, Bali, di Ubud dan seterusnya. Jadi caranya kita menghubungkan satu sama lain ya melalui tadi. Ikatan-ikatan tertentu. Bisa tema, bisa bentuk kebudayaan atau kesenian tertentu. Bisa juga ruang, misalnya sama-sama maritim.
Itu yang kita lakukan. Jadi tiga saja. Kebijakan, institusi sama aksi-aksi. Di tiga wilayah itu kita gerak.
Soal festival tadi, supaya bisa bersinergi, apakah harus ada organisasinya sendiri?
Ya organisasinya akan terbentuk dari praktik. Saya cenderung tidak mulai dengan bikin panitia apa, segala macem. Saya baru dari Sumatera Barat ketemu dengan gubernur. Usul saya, coba kita fokus di silat. Sile kalau di Padang. Kalau di Minang, sile itu sangat kuat. Tapi sile itu tarian, tapi dia juga tradisi lisan, olahraga, dia juga banyak hal yang lain. Ini kan bisa ketemu. Berporos pada sile ini, banyak hal termasuk film. Sekarang sedang diproduksi Wiro Sableng. Ada novelnya. Nah, ada sastranya, ada filmnya, ada tari, ada musik yang terkait. Itu luas sekali. Sebetulnya belum pernah dieksplorasi secara penuh. Kita ingin sekali yang begini-begini terangkat. Jadi ada pertukaran, pertemuan, macam-macam, praktik modern, kontemporer, tradisi, ketemu semua di dalam satu kerangka. Itu yang mau kita bikin. Organisasinya tentu akan rumit. Di sini kita menyiapkan yang kita lihat intinya menjalankan semua koordinasi itu.
Ada lembaga dari Prancis datang. Saya bilang soal gamelan. 'Saya ikut', mereka bilang. Kita memanfaatkan energi-energi yang kayak begini. Mereka ada di sini, setiap tahun Prancis mendatangkan 100 seniman, budayawan ke sini. Cuma energi ini enggak terserap di kita. Selama ini mereka paling bikin di pusat kebudayaannya, yang nonton 40/50 orang. Lingkup yang sangat terbatas. Sekarang kita mau perluas. Platform ini lah yang nantinya akan bekerja untuk keperluan itu. Saya bilang soal gamelan, ya udah tinggal taruh aja di platformnya. Jadi music director yang akan datang bisa lihat kemungkinan-kemungkinan lain. Solo ada gamelan, sile ada di Minang dan seterusnya. Itu sirkulasi yang kita produksi. Di sini jadi kayak semacam terminal. Orang datang dan pergi, dia mau ke mana, bikin sesuatu.