Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid

Indonesia Jadi Bukti Persatuan dalam Keragaman

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Nah, ini kan masalah kelembagaan. Bukan saya bilang Indonesia begitu. Enggak. Itu Museum Angkut di Malang sukses. Jual Rp150 ribu yang antre banyak. Terus masih banyak lagi. Di Yogya. Terus sekarang ada museum seni kontemporer yang baru keluar. Macan namanya. Bagus dan dia bisa charge orang dengan harga yang pantas lah sesuai dengan harga pasar. Ya tentu namanya museum pemerintah ada subsidinya. Pasti. Jadi enggak mungkin dia diharapkan 100 persen membiayai dirinya sendiri. Secara umum, kelembagaan ini yang menghambat.

img_title Kemendikbud Dipecah Tiga, Prabowo Tunjuk Abdul Muti, Prof Satryo hingga Fadli Zon jadi Menterinya

Sekarang terobosan apa yang kita ambil? Sekarang sedang mengusulkan museum ini diubah dari UPT menjadi Badan Layanan Umum (BLU) seperti rumah sakit. Tidak nyari untung tapi boleh dapat pemasukan. Artinya dia enggak kemudian sibuk jualan saja terus mengorbankan banyak hal, kayak transmisi nilai dan segala macam. Tapi dia bisa mendapat pemasukan. Karcis masuknya pantasnya ya Rp25 ribu lah, Rp30 ribu. Sekarang orang daya belinya meningkat, kelas menengah Indonesia juga lagi tumbuh. Kayaknya kalau untuk paket pameran yang pantas, yang bagus, duit segitu rasanya masuk. Ini enggak terjadi sehingga kita juga enggak bisa pasang target UPT-nya ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Coba kamu naikkan target pengunjungnya, bikin program apa, segala macam, gajinya sama. Kemudian dia minta jadi dapat insentif, enggak boleh. Nah, sekarang kalau kita bikin, diubah jadi BLU, cari direktur yang juga digaji menurut harga pasar, kurator, researcher, semua perangkat-perangkat yang sangat diperlukan oleh sebuah institusi museum. Sekarang kita enggak bisa bayar itu. Karena kalau begitu namanya peneliti, dia enggak boleh ada di UPT. Adanya di lembaga penelitian. Ini aturan-aturan yang Pak Jokowi bolak-balik bilang, 'Ini kan menjerat kita sendiri'. Tapi aturan tetap aturan. Kalau saya kemudian memberlakukan sistem mau-mau saya, ya salah itu pasti. Daripada ramai, saya pikir sekalian institusinya menjadi BLU dan kemudian dituntut, dikasih target. Kita enggak berharap mereka 100 persen bisa membiayai diri sendiri, tapi paling enggak ada proses signifikan dari pengeluaran mereka. Itu bisa ditampung oleh mereka sendiri.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Pengembangan Bahasa dan Kebudayaan sebagai Strategi Diplomasi Global
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut