Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid

Indonesia Jadi Bukti Persatuan dalam Keragaman

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

Jadi buat saya ukurannya bukan seberapa banyak festival yang kita punya, seberapa banyak seniman yang ke luar negeri dan segala macam. Itu salah satu aja. Tapi sebenarnya yang jauh lebih mendasar, ya tadi. Membangun ruang landasan yang luas bagi publik kita ini untuk mengembangkan diri secara kultural, secara intelektual, sehingga dia betul-betul nanti bisa ambil bagian ketika dunia ini makin terarah pada pembangunan ekonomi sosial yang berbasis kreativitas, berbasis identitas kebudayaan. Itu penting sekali. Saya sih membayangkannya begitu ya.

img_title Ternate dan Tidore dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

Pemerintah sekarang siap membangun permukiman bagi warga rimba atau masyarakat komunitas adat terpencil (KAT). Banyak yang bilang itu justru menghilangkan kebudayaan sendiri. Anda melihatnya bagaimana?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kalau case by case, tentu kita bisa diskusi panjang ya. Saya terus terang enggak hafal. Tapi betul, tentu kalau sudah berbicara mengenai penanganan komunitas yang punya identitas kultural yang khas, yang kuat segala macam, di kita mandatnya mengutamakan itu. Cuma memang kenyataan juga mesti kita lihat tradisi atau kebudayaan seperti itu hidup dalam habitat yang juga berbeda dengan sekarang. Sekarang ini banyak dari orang rimba yang hidup di atas tanah yang diklaim, digarap oleh perkebunan kelapa sawit.

img_title Kabar Terbaru Kasus Penipuan Catut LLDIKTI Kemendikbudristek

Jadi situasi hidup mereka juga sudah jauh bergeser daripada 100, 200 tahun lalu ketika mereka katakanlah masih bisa menjadi masyarakat yang hidup subsisten, relatif mandiri dari pengaruh luar, itu mungkin masih bisa bertahan. Jadi saya kira, di samping pertimbangan-pertimbangan yang sifatnya kultural, pertimbangan yang sifatnya sosial dan juga lebih practical, dipertimbangkan. Kuncinya sebetulnya bukan apakah kita mau berubah atau membuat mereka tetap hidup, komunikasi. Orangnya diajak bicara maunya bagaimana. Kan kita enggak bisa bilang ini lah yang terbaik untuk mereka. Kita punya rencana, kita merasa ini lah jalan keluar terhadap masalah yang dihadapi, tapi kuncinya menurut saya adalah komunikasinya itu. Partisipasi publik sangat menentukan.

Kalau diberi rumah semua, apakah tidak khawatir budaya aslinya akan hilang?

img_title Andreas DPR Minta Nadiem Kaji Prosedur Angkat Guru Besar di RI

Makanya itu kan pilihannya. Dia disediakan. Mau dia kemudian memilih tetap dengan caranya yang lama, dengan satu atau lain alasan yang sangat-sangat bisa kita mengerti, enggak bisa diapa-apakan juga. Hanya saja yang mesti kita ingat tadi, habitatnya dia juga pelan-pelan bergeser, semakin berkurang. Hutan yang mereka kenal dulu dan saya kira bukan cerita baru buat mereka, juga mereka kesulitan untuk mempertahankan hidup dengan cara seperti yang mereka lakukan sebelumnya. Jadi ini proses transformasi yang bukan hanya dialami kita. Di seluruh dunia sebetulnya. Kalau tanya saya, secara pribadi, ya sederhana. Kembalikan kepada komunitasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut