Indonesia Jadi Bukti Persatuan dalam Keragaman
- VIVA/M Ali Wafa
![]()
Kalau soal lagu Indonesia Raya Tiga Stanza, apa alasannya Kemendikbud kembali menggaungkannya?
Pertama karena alasan historis ya. Memang sejarah lagu itu ya tiga stanza. Kita enggak bisa kurangi ya. Bahwa sekarang atau paling tidak selama ini orang menyanyikan hanya satu stanza, untuk alasan-alasan praktis, biar lebih simpel, dan seterusnya ya tidak masalah. Tapi bukan berarti kita mengabaikan begitu saja bahwa ada tiga stanza. Kedua, alasan pendidikan, pembangunan karakter. Kalau diperhatikan, syairnya itu luar biasa dan itu sebetulnya enggak bisa dipisah. Karena satu misalnya, dibilang, 'Marilah kita berseru Indonesia bersatu'. Baru sampai pada seruan. Yang keduanya itu, 'Marilah kita mendoa Indonesia bahagia'. Yang ketiga dibilang, 'Marilah kita berjanji Indonesia abadi'. Kalau kita baca puisi, baru sampai bait pertama. Kalau kita tidak memperkenalkan kepada anak sekolah bahwa sebetulnya ada tiga stanza, ya salah kita. Apalagi teksnya itu mengandung pesan-pesan yang luar biasa. Di situ dibilang, 'Selamatlah rakyatnya, putranya, lautnya, pulaunya, semuanya'. Jadi sudah biasa di kementerian menyanyikan.
Mulai kapan Kemendikbud mulai menyanyikan Indonesia Raya Tiga Stanza?
Tahun lalu. 28 Oktober tahun lalu itu pertama kali kita bikin acara di Taman Ismail Marzuki, di Graha Bakti. Wah, lain rasanya. Dinyanyikan sama anak-anak Gita Bahana Nusantara, yang setiap tahun nyanyi di Istana tuh. Mereka dipanggil, terus mereka main tiga stanza. Nyanyi. Pak Menteri hadir. Dibilang, 'Saya merasakan ini lain'. Dan kita berharap ke anak-anak setelah mereka mengerti syairnya, paling enggak jadi bagian dari pengetahuan mereka.
Indonesia sudah merdeka sejak lama, tapi kenapa baru sekarang Indonesia Tiga Stanza digaungkan?
Ya saya jadi dirjen juga baru hahaha. Ya saya kira selama ini sudah ada ya, organisasi-organisasi kemasyarakatan yang menyanyikan itu. Tapi kurang luas. Alasannya biasanya karena alasan-alasan yang sifatnya praktis. 'Aduh kepanjangan 4,5 menit, waktu kita terbatas'. Kita tahu lah. Cuma saya bilang waktu pertama kali memperkenalkan ini, saya bicara panjang sama Pak Menteri. 'Ini harus dibunyikan'. Saya kira salah satu yang menjelaskan kenapa sekarang ini, konteks kita. Sekarang banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mendasar tentang Indonesia, karena perbedaan macam-macam lah. Soal-soal identitas, juga ada kegelisahan besar. Ekonominya juga lagi jalan, kehidupan sosial kita mengalami transformasi, teknologi digital muncul. Banyak anak lebih merasa sebagai warga dunia daripada warga Indonesia. Bahkan menganggap Indonesia mungkin cuma paspor atau KTP.