Depresi, Membunuh dalam Senyap

Seorang yang mengalami gangguan jiwa akibat depresi tengah dimandikan di Kediri, Jawa Timur.
Seorang yang mengalami gangguan jiwa akibat depresi tengah dimandikan di Kediri, Jawa Timur.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

VIVA – Suasana tampak sepi di sepanjang koridor lantai empat Gedung Poliklinik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Kamis, 25 Januari 2018. Bisa dihitung dengan jari, orang yang hilir mudik di koridor dengan dinding bercat putih itu. 

Mereka kebanyakan tenaga medis, beberapa perawat dan dokter berjas putih. Kondisi sangat kontras dengan hiruk pikuk pasien dan tenaga kesehatan di lantai dasar gedung yang berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 71, Jakarta Pusat

Di koridor sepi ini, poliklinik psikiatri atau kesehatan jiwa berada. Terdapat dua poliklinik yang dibagi untuk dewasa serta anak-anak dan remaja. Di dalamnya, tampak beberapa ruangan untuk pasien berkonsultasi dengan ahlinya. 

Ada juga bangku-bangku panjang tempat pasien menunggu giliran, yang siang itu tampak kosong. Sementara di ujung poliklinik, terdapat meja resepsionis, tempat perawat memanggil pasien. 

Di banyak rumah sakit, mungkin poliklinik psikiatri menjadi salah satu yang paling sepi pasien. Bisa jadi karena banyak penderita atau keluarga yang tak menyadari mengalami depresi atau malu untuk mendatangi psikiater karena stigma salah, 'psikiater hanya untuk pasien gila'. Padahal di sini, gangguan emosional dari ringan hingga berat bisa ditangani. 

Gangguan emosional memang kelihatannya sepele, tapi sebenarnya merupakan masalah serius, yang bila didiamkan bisa berujung nyawa. Tengok saja kejadian pilu dari dunia hiburan Korea Selatan yang masih lekat dalam ingatan pada Minggu lalu, 21 Januari 2018. Jun Tae Soo, adik aktris Ha Ji Won yang berprofesi sebagai aktor, meninggal dunia. Sebulan sebelumnya, penyanyi terkenal dari negara yang sama, Jonghyun SHINee juga meregang nyawa. 

Pemakaman personel SHINee Jonghyun

Foto Kim Jonghyun, personel SHINee, terlihat di altar saat prosesi pemakamannya di Seoul, Korea Selatan, 19 Desember 2017. (Yonhap/via REUTERS)

Paling mengejutkan dunia adalah kepergian pentolan band Linkin Park, Chester Benington pada 20 Juli 2017. Mereka rata-rata meninggal karena keinginan sendiri alias bunuh diri. Dan penyebabnya pun serupa, karena depresi yang tak kunjung sirna. 

Baca juga: Dunia Melawan Depresi

Tak cuma mereka, banyak nama selebriti atau rakyat biasa yang bunuh diri karena depresi. Di Indonesia, kasus percobaan bunuh diri terhangat datang dari Jombang, Jawa Timur. Ibu muda, Evy Suliastin Agustin pada 16 Januari 2017 lalu, mencoba bunuh diri dengan mengajak tiga buah hatinya. 

Diduga alasan wanita berusia 26 tahun itu ingin mengakhiri hidup adalah depresi karena suaminya menikah lagi. Akibat perbuatannya, ketiga anaknya hilang nyawa. Sedangkan kondisi Evy sudah membaik pasca menenggak racun dan kini dijebloskan ke penjara. 

Lihat Infografik: Depresi, Kenali dan Atasi

Ada lagi yang paling menggemparkan dan sulit dilupakan adalah kasus bunuh diri yang disiarkan secara live di Facebook pada Maret 2017. Bunuh diri pria itu dipicu cemburu dan depresi karena rumah tangganya kandas. Jika didata, kasus bunuh diri di dalam negeri pasti punya daftar panjang.