Sejarawan Mona Lohanda

Indonesia Punya Kepribadian Berlapis

Mona Lohanda
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Mona Lohanda

img_title Mengapa dalam Satu Minggu ada Tujuh Hari?

Arsip lebih banyak di mana?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tentang Indonesia pasti lebih banyak di sini. Justru kekurangan mereka, yang ada di mereka itu level pemerintahan pusat, kalau lokal, itu arsip daerah dari Aceh sampai Ternate atau Papua itu ada di sini. Makanya mereka itu pertama ke sana dulu, setelah itu mereka pasti ke sini.

img_title 5 Pahlawan Nasional Asal Yogyakarta, Salah Satunya Bapak Pendidikan Indonesia

Jadi merunutnya harus dari Belanda dulu?

Iya. Kalau mereka asing, kalau kita cukup di sini. Tapi terkadang perlu juga ke Belanda.

img_title Sejarah 10 November: Pertempuran Surabaya yang Diperingati Sebagai Hari Pahlawan

Saya awalnya menulis soal Kapiten China itu tidak ada maksud menulis tentang itu. Awalnya saya mau menulis tentang Kapiten Bugis, Jawa, segala macam, Ambon, Melayu. Profesor saya bilang, Mon lebih baik nulis tentang Kapiten China, karena itu datanya pasti kamu dapat banyak. Yakin pak? Iya, karena orang China itu suka menulis dan mengumpulkan dokumen, benar.

Kalau Kapiten lain itu banyak, professor saya itu sosiologi tapi tahu banyak, karena dia juga bisa bahasa Belanda. Umurnya pendek, benar setelah saya tulis itu umurnya hanya sampai 1830.

Kapiten China itu masanya berakhir setelah era Sukarno?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ya, 1950, jadi itu jadi kasus, saya dipanggil sama orang LBH (Lembaga Bantuan Hukum) jadi Sejuk (Serikat Jurnalis untuk Keragaman) rupanya menulis tentang China Benteng yang di Neglasari. Saya bilang, itu bukan China Benteng. China Benteng itu punya nilai historis, antropologis dan budaya, itu bukan China Benteng. Mereka adalah korban dari PP Nomor 10 tahun ’59, mereka diangkut dari desa dibawa ke daerah Priok, ditaruh di sana untuk menunggu kapal dari China, dari RRT (Republik Rakyat Tiongkok) ternyata kapal itu Cuma dating dua, jadi mereka terlantar di situ, didiamkan saja selama masa Sukarno, Suharto. Dan mereka rebut mereka enggak punya bukti, dan benar, temanku kan saya tahu dari teman-teman Institus Keluarga Indonesia, mereka Cuma dapat exit permit only, surat itu. KTP enggak punya, jadi itu yang diributkan oleh anak-anak LSM, diskriminasi.

Sebenarnya bukan diskriminasi, orang mereka enggak punya surat. Saya jelaskan, dan itu bukan China Benteng, itu kan dari daerah ditumpuk ke situ, mereka enggak mau dibilang China Benteng, karena mereka baru di situ tahun ’60. Kalau kita (China Benteng) kan sudah ada sejak sekian ratus tahun lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut