Sejarawan Mona Lohanda

Indonesia Punya Kepribadian Berlapis

Mona Lohanda
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Setelah dia menghancurkan Bangkalong dan Bawetan, karena Banten enggak berhasil, Batavia dia enggak berhasil, terus mundur, ini di pesisir itu kan kosong, dan di sana kan ada penguasa-penguasa kecil lokal dan ini kosong, akhirnya VOC kan enak. Sampai ada bupati pesisir itu yang merasa lebih enak bekerja untuk VOC daripada Mataram.

img_title Mengapa dalam Satu Minggu ada Tujuh Hari?

Mereka bilang ke Mataram hanya bawa upeti sebulan sekali juga tak apa, itu  salah satunya. Nah orang kan enggak tahu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Nah terus anaknya Amangkurat I, kan waktu itu ada rebutan tahta. Dia minta bantuan Belanda, dia bikin perjanjian, walaupun dia diserang oposisi terus dia meninggal di Krapyak, makanya dikenal dengan ‘Panembahan Seda ing Krapyak’, tahu enggak salah satu perjanjiannya? Dia menyerahkan Priangan. Karena Priangan waktu itu salah satu adipatinya, yaitu Adipati Ukur kan disuruh menyerang ke Jakarta. Begitu diserahkan ke VOC langsung cultuurstelsel, waktu itu belum cultuur, masih priangan stelsel, kopi.

img_title 5 Pahlawan Nasional Asal Yogyakarta, Salah Satunya Bapak Pendidikan Indonesia

Itu model cultuurstelsel pertama, dulu Priangan itu lebih menderita.

Saya sering tanya mahasiswa, seringkali di perjanjian harus serahkan beras sekian ratus gantang. Istilahnya ada gantang ada koyang. Itu ukuran koyang, gantang, pikul. Orang bule kan enggak makan nasi. Tiap tahun dikirim ke Batavia, dijual ke Malaka. Itu kan semuanya mainannya semua dagang. Belanda kan enggak makan nasi. Makan nasi kan sekarang-sekarang ini, tapi enggak semua. Jadi kita harus ada yang disebut dengan the logic of history.

img_title Sejarah 10 November: Pertempuran Surabaya yang Diperingati Sebagai Hari Pahlawan

Disebutkan juga perwakilan wanita dalam parlemen lokal, DPRD. Itu pasti bukan perempuan Melayu. Pasti bule. Kan banyak komunitas Indo Belanda Eropa. Perempuan pasti bule. Suka bias. Ada data menarik. nanti dulu mas harus kritis. Kelemahan kita begitu dapat data dari arsip, senang, nanti dulu. Memangnya bisa dicaplok semuanya.

Mona Lohanda

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Catatan sejarah lebih banyak di pusat Jakarta?

Daerah bukannya tidak ada. Saya masih SD, Bung Karno mengganti sistem dari swatantra tingkat II, kabupaten. Sekarang kabupaten muncul lagi sesudah otonomi. Jadi dia lebih dominan. Itu harus dicari sebetulnya. Kalau orang kita, itulah kurang mau. Daerah tuh dikumpulkan sebanyak-banyaknya. Ada badan arsip dan perpustakaan daerah saya enggak tahu apa pekerjaannya. Arisp baru-baru saja. Sesudah saya meneliti sampai tahun 50-an, masih ada sisa-sisa arsip pribadi, dia serahkan. Tapi arsip di daerah kayak apa. Jaman kita perang, kita hidup kayak apa.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut