- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Sebenarnya masih banyak yang bisa ditulis tentang Batavia zaman kolonial, itu masih banyak.
Seperti apa bu?
Seperti tentang saya bilang, waktu kita pindah ke Yogya, ’45-’49, di sini (Jakarta) kan kosong. Tapi ternyata ada yang memerintah. Sebab, Gedung Proklamasi, di Pegangsaan Timur, itu rumah Sukarno itu dipakai kantor perwakilan lho. Dan waktu, duh saya jadi cerita kemana-mana, waktu itu saya pernah cerita, jadi PTRI itu ternyata saya baru tahu itu ada di Merdeka Selatan, jangan-jangan itu di Kedutaan Amerika sekarang. Orang dari Kemlu dia tanya, dan ternyata memang benar.
Tahukan anda, waku Sultan HB IX menerima kedaulatan dari Belanda, dia berangkat dari Pegangsaan Timur. Ada fotoya, ada arsipnya.
![]()
Ada pemerintahan berarti saat itu di Pegangsaan Timur?
Iya, berarti ada double. Sebab, sesudah kita itu, NICA membnetuk daerah, ternyata Gubernur Jakarta, itu Hilman Djayadiningrat, dari keluarga Husein. Saya curiga, jangan-jangan ketika ada NICA ini ngapain? Saya enggak tahu, apa sistem masih diteruskan, karena ketika kita zaman Belanda jelas, saya juga tulis di buku Batavia, di Jepang sedikit tapi enggak banyak berubah, nah ketika kita pindah ke Yogya, kan enggak mungkin ditinggalin, karena kan Sutan Sjahrir lebih banyak di Jakarta lho. Wong di fotonya lagi banyak orang Belanda kok.
Ibu mengatakan kedekatan emosional, tapi bagaimana kalau dilihat secara sejarah budaya?
Ada begini, ini buku proyek di DKI, DKI itu punya sejarah dan museum, rupanya mereka punya proyek menjelang Sutiyoso berakhir jabatan, mereka ingin menulis orang-orang penting di Jakarta, sebetulnya fokus mereka gubernur republik. Saya bilang saya enggak punya data kalau republik, tapi kita juga pikir, sudah yang zaman Belanda itu kita kasih juga bu Mona, akhirnya saya kan sudah punya data, ada data mulai dari Kapiten China sampai Kapiten Melayu. Nah Kapiten Melayu itu juga banyak, dari Kapiten Arab, nah sekarang Kapiten Arab itu belum ada yang tulis. Saya sudah bilang sama teman-teman saya yang Arab Betawi, saya kan China-Betawi, nah lu tulis tuh yang Arab-Betawi.