Sejarawan Mona Lohanda

Indonesia Punya Kepribadian Berlapis

Mona Lohanda
Sumber :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa

Pemerintahan Surabaya saat revolusi sudah ditulis sama Bill Frederick, Oke. Tapi Malang atau lainnya? Di zaman Soekarno saja, apa yang terjadi di sana. Tak usah sejarah kota Malangnya. Malang masih bau-bau Belanda. Kalau Jakarta Batavia saya kerja itu. Cuma sampai tahun 2000, bibliografinya sudah lebih 5000. Orang Belanda juga senang tulis Batavia karena dia lama di sini. Artikel-artikel sudah cukup banyak. Daerah lain, dulu di jaman Belanda malah ada tentang Makassar. Tapi sesudah kita merdeka itu saya tak mengerti.

img_title Fadli Zon Bilang Penulisan Sejarah Sudah Selesai: Sedang Proses Editing

Saya prihatin karena ketika kita otonomi, kan sering terjadi konflik. Seperti mau bikin kabupaten Aceh. Itu kan daerah Gayo saya lihat. Itu biar Gayo saja. orang Aceh lain lagi di sana. Itu karena ambisi dominasi orang partai politik. Dia mungkin dari Aceh. Tapi anda menimbulkan konflik budaya. Konflik budaya terjadi karena kita sendiri. Tak memahami kita dulunya siapa. Kita tak ada yang sadari. Orang Indonesia punya identitas berlapis.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Amerika ditanya dari mana, dari Ohio, California, bahasanya sama. Kecuali orang hitam dia punya ekspresi sendiri. Tapi kalau kita orang Indonesia, ada orang Jawa, Aceh, Tapanuli, Sunda. Jawa saja ada pesisir, Tegal, Pekalongan, bahasanya lain. Jogja, Solo lain. Berarti kita punya banyak varian. Itu harus jadi kebanggaan. Bugis Makassar, Bugis Bone, Bugis mana lagi. Banyak. Jangan dikira Dayak, itu Dayak saja, banyak itu. Itu harus jadi kebanggaan.

img_title Jawaban Satire Sejarawan David Van Reybrouck Ditanya soal Soeharto Jadi Pahlawan Nasional

Kalau kebanggaan, anda pertahankan bahasa. Bahasa Indonesia jadi bahasa persatuan, bahasa politik dulu, satu nusa melawan penjajahan. Tapi sekarang merdeka kembali lagi, jangan dilupakan. Semua orang bahasanya bahasa Jakarta. Bahasa Jakarta kan bahasa nasional kedua, saya bilang sama orang Betawi, anda jangan minder, anda bahasanya bahasa nasional kedua. Sedikit ke Jakarta saja sudah pakai bahasa Jakarta.

Saya prihatin soal bahasa. Pada suatu saat kita jadi seragam. Anda pakai HP, semua makan hamburger, sepatunya Nike, mau apa lagi. Dan itu tak menarik lagi. Sekarang mereka sebut itu world culture. Anak-anak sekarang juga sebut we are people of the world. Tapi ada suatu saat anda akan tanya siapa saya. Mereka akan tetap cari ujungnya kemana. Sering orang bule sudah mulai bertanya siapa saya. Dicari asalnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Kemungkinan yang Bakal Terjadi Kalau Indonesia tak Dijajah
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut