- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Saya kalau di rumah pun pasti ada kerjaan dari teman-teman lain. Minggu lalu baru selesaikan naskah dari mendikbud. Bu kita disuruh menulis pedoman bagaimana menggunakan sumber sejarah. Ibu diminta koreksi. Saya tadinya mau cerewet tapi sudahlah. Ini untuk yang di daerah. Ada lagi teman sudah bikin naskah bangunan tua, tolong dilihat. kayak gitu. Itu kerjaan begitu saja macam-macam ada. Ada orang DKI kasih buku transportasi. DKI tak perlu bikin buku itu. Tapi ternyata orang kita bikin proyek yang tidak-tidak. Bukan bagian Anda. Yang saya sebel, bikin tim. Tak boleh satu dua orang. Tim itu kan ada malas dan rajin. Saya bilang ngapain bikin tim. Saya disuruh jadi koordinator. Untuk apa cuma 100 halaman sampai 5 orang. Itu bisa ditulis sendiri. Lima orang buang-buang duit. Terus ada tim pencari data yang tak kerja.
Kemarin saya di kelompok arsitek yang kota tua. Anda selalu konsennya di kota tua. Coba di Jakarta Timur, Tak pernah ada yang sentuh. Bukan daerah militer dan kolonial juga. Kota tua melulu. Ini kan terlantar jadinya.
Kenapa ibu mau melakukan ini?
Karena saya senang mas, enggak ada alasan apa-apa. Kalau saya ditanya, selalu saya jawab, saya mah demen aja. Waktu kita mau pulang, abangnya mas Dani, dia orang pertanian, dia Tanya bagaimana bu? Saya bilang, di kantor itu banyak arsip tentang sistem cultuursteelsel tentang pertanian. Dari gula, kopi, teh, padi, semua ada, tinggal datang ke sini dan dia bisa membaca. Orang kita itu gampang, persoalannya mau tidak dia membaca. Ada juga dia keburu bosan, berat katanya.
Ibu lebih dikenal sebagai sejarawan Jakarta, beberapa buku ibu juga menceritakan sejarah Batavia?
Kapitan China (tentang) Batavia, Orang Pembesar (tentang) Batavia, terus ada sebetulnya artikel kecil-kecil lainnya. Begini, karena kita kalau menulis sejarah local kita sebaiknya punya kedekatan emosi. Mudah mengerti, karena anda bagian dari inner society-nya, sebab itu Kapitan China saya sebut juga Batavia, tapi sebenarnya Batavia itu punya status istimewa, dia punya panjang, jadi dia punya posisi sebagai ibu kota, masyarakatnya punya posisi. Ketika saya menulis ‘Kapitan China’ orang kemudian bilang, sudah mati, sudah tidak ada. Tapi ternyata dia sampai zaman Jepang menjajah. Bahkan tahun 50an ada, tapi karena sudah tidak diperhatikan pemerintah, itu tahun 50an mereka berhenti. Jabatan itu sudah tidak ada lagi, karena itu diberikan pemerintah zaman kolonial dalam hal ini VOC.