- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Aku dulu di SMA sudah suka dengan cerita terjemahan, saduran, ada seri Balai Pustaka, macam-macam saduran sastra dunia, begitu kuliah, buku referensinya sudah enggak ada terjemahannya saya push lagi, saya paksa supaya bisa bahasa Inggris. Biarin saja satu halaman buka (kamus) seratus kali juga apa boleh buat. Sampai sekarang saja saya terus pegang kamus. Mahasiswa bingung, ibu masih pakai bahasa Indonesia, saya bilang, lu enggak tahu bahasa Indonesia itu banyak berubah?
Saya tetap, saya kalau enggak pakai kamus itu di rumah kamus saya itu segini (menunjuk setinggi pinggang orang dewasa), bahasa yang sering saya jumpai, Perancis keluar, Jerman keluar, Inggris keluar, saya punya yang reference yang gede ini, sepuluh tahun sudah mesti diganti ini. Saya itu yang Inggris sering saya ganti karena mereka kan sering ada kosakata baru.
Belanda kan juga mengalami perkembangan?
Pasti, teman di Belanda ngatain kamu itu antiquariat. Kamu bilang kalau baca Koran kadang masih gelegapan karena sudah bercampur dengan bahasa modern. Kalau baca arsip itu lebih cepat, karena dia punya format. Kita sudah tahu, kalau baca dokumen atau surat bagian atasnya jangan dibaca karena basa-basi. Cari tengahnya mana inti suratnya, itu tehnik. Karena itu dokumen pemerintah, dia kalau jawab surat pasti diawali dengan bla, bla, bla, jadi kita cari saja intinya, biasanya di tengah, jadi ada tehniknya supaya tidak buang-buang waktu dan berpanjang-panjang. Tapi mencari esensinya itu harus dirunut juga.
Arsip saling berkaitan, bagaimana merunutnya atau menyusunnya?
Itu yang saya suka dengan arsip Belanda. Sebab mereka dari awal, dijawab sampai sini, itu banyak. Dokumen sejarah itu ada proses, ketika anda mendapat infomasi pertama lagi kemana-kemana, dalam surat menyurat itu seringkali terjadi perdebatan dan pertentangan, kalau datar saja itu enggak menarik.
Saya suka dengan buku tentang politik, bagaimana mereka harus menghadapi gerakan Kuomintang dan bagaimana mereka harus menghadapi gerakan Syarikat Islam. Mereka harus banyak dialog dan perdebatan, kalau datar saja saya tidak suka. Padahal teman saya bilang yang kamu tulis itu strukturis, padahal tidak datar, up and down itu kelihatan. Itu kalau kita melihat sejarah sebagai proses, dia bukan sesuatu yang datar kan.