- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Saya tidak berpikir masuk sejarah, saya itu maunya ke sastra Indonesia. Tapi waktu itu dibilangnya kalau mau belajar sastra Indonesia harus belajar bahasa Arab Melayu. Tapi sekarang saya butuh itu Arab Melayu, tapi saya bilang dulu tidak usah deh. Terus di daftar itu kan ada jurusan-jurusan, ada sastra Inggris, Jepang, China, Perancis, saya tidak tertarik sama itu. Selain itu ada juga jurusan sejarah, antropologi, sosiologi. Sudah saja saya gini-kan (tangannya membuat gerakan mencontreng).
Langsung pilih sejarah?
Iya, kan kita waktu itu komputer tapi masih pakai punchcard, sudah masuklah sejarah. Ternyata di sejarah tidak ada yang namanya sejarah murni, teman saya dia itu ada yang dari Inggris, tidak diterima sudah saja ke sejarah. Kalau saya sudah saja langsung pilih sejarah. Tapi kalau saya itu ingin saja tahu seperti apa sih sejarah, waktu dari SD, SMP, SMA sejarah begitu, ya ingin lihat saja, jadi keterusan.
Tapi saya punya satu prinsip, kalau kita memilih kita konsekuen. Setia pada pilihan, makanya waktu saya masuk langsung begitu.
Terus bisa sampai ke Arsip Nasional?
Sebenarnya saya waktu itu masih mahasiswa tingkat tiga, kan waktu zaman kami itu ada sarjana muda, harus lulus ujian ada semacam skripsi pendek, cuma 40 halaman. Waktu saya buat skripsi, kan butuh ke perpustakaan. Saya ambilnya zaman Belanda, yang punya buku tentang zaman Belanda itu di mana? Ternyata adanya di Arsip Nasional. Kebetulan kepalanya kan dosen kita juga, saya sering bolak-balik, enak kalau di sini, ditaruh di ruang baca, disuruh pilih. Terus ibu Sumartini bilang waktu itu, "Mon, kamu bantu saja di sini." Saya bilang, nanti dulu deh bu, saya kan belum ujian.
Saya enggak berani janji, padahal saya sudah terima tawaran dari beberapa dosen lain, termasuk dari fakultas sendiri. Papa saya selalu bilang, kalau sekolah jangan sampai terganggu kerja, nanti enggak selesai sekolahnya. Saya juga dapat tawaran dari Pusat Sejarah ABRI, terus dari fakultas, kalau LIPI dia belakangan, pak Abdulah baru tawarkan belakangan.