- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Malah sebelum VOC datang kita sudah ada di sana kan. Kalau mereka kan dikumpulkan di kota-kota pusat pelabuhan dari desa, katanya mau diberangkatkan, ternyata hanya dua kapal yang dating, sehingga mereka jadi problem. Dan ternyata di sana (China) juga mereka menjadi masalah, ini mau diapakan ada pendatang. Sehingga dari teman-teman LSM cerita, ada yang sudah terbawa, akhirnya mereka lari ke Hong Kong, banyak juga yang tersebar ke Brasil, ke Australia, New Zealand, diasporanya kemana-mana.
Karena status stateless?
Iya, ternyata mereka itu tidak punya itu (dokumen) karena sudah diambil, sehingga hanya dikasih izin exit permit only, karena mereka (LSM) juga mengontak saya soal warga Negara, orang China bilang di Belanda itu ada soal warga Negara. Status 48, status 58. Makanya mereka tidak mau disebut China Benteng, karena kita yang dari dalam kota sendiri itu China Benteng, yang di pinggir-pinggir sana, itu sudah ratusan generasi.
Bagaimana sebenarnya awal mula suku Betawi?
Masyarakat Betawi di kalangan mereka banyak terjadi beda pendapat, saya sebagai orang Betawi yang agak di luar karena kita kan orang yang, kalau Betawi yang benar itu kan ada unsur aslinya darimana. Kita bilang anda campuran dari macam-macam, mereka bilang menolak kalau mereka disebut turunan budak. Kita bilang bukan turunan budak, tapi ada unsur budak di situ, bukan hanya budak, tapi serdadu juga saya bilang. Ketika Belanda datang kan ada Pangeran Jayakarta, dia mewakili Banten, terus ada kampung China di Ciliwung, kemudian waktu diserbu Belanda kawasan ini kosong, kemudian yang dari Banten itu lari ke Jatinegara Kaum, itu kampung tua di Jakarta, salah satu. Saya heran, kok orang Betawi ada yang pakai nama Raden, ternyata itu keturunan dari Banten.
Terus oleh VOC, Jan Pieterszoon Coen, ini dibangun kota, diisi orang dari berbagai tempat, dia isi orang dari Ambon, dari Bali, semua. Nah, di Makassar itu ada pasar budak, nah ini di Betawi juga ada pasar budak, orang Bali kalau kalah perang kan jadi budak, mereka juga dikirim sama raja mereka ke Batavia sebagai budak. Kalau anda laki-laki dan berbadan kuat jadi serdadu seperti Untung Surapati, kan budak Bali, dia memilih jadi serdadu. Karena biar jelek-jelek juga kan masih dapat gaji, kalau perempuan budak.