- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Kemudian waktu saya sudah sarjana muda ada masuk semester lagi kan lama, sudah capek karena ada buku tinggi menumpuk capek juga lama-lama. Akhinya iseng aja saya jalan, saya bilang boleh juga deh bu, sudah saja kita jalan. Tapi dengan perjanjian karena saya masih kuliah, jadi saat kuliah saya tidak masuk kantor. Itu (tahun) 71, 72 baru saya jadi calon pegawai negeri. Waktu itu baru terima gaji 70 persen.
Dalam proses itu belum terpikir menjadi arsiparis atau sejarawan?
Enggak terpikir, saya kan sampai pensiun saya bukan arsiparis, karena saya tidak pernah mendapatkan pendidikan sebagai arsiparis. Saya sejarawan, karena kepala ANRI waktu itu ibu Sumartini dia lihat, dia tanya juga sama dosen lain, kelihatannya anak ini cocok untuk hubungannya dengan kampus, jadi saya mendapat semacam assignment. Saya hubungannya dengan kampus, saya jadi sering bertemu peneliti, karena kebetulan saya ditugaskan untuk bertemu dengan peneliti. Dan waktu itu orang Indonesia peneliti belum banyak, kebanyakan orang asing.
Saya itu waktu itu saya suka ikut cari sendiri dan saya ngobrol, saya tanya. Jadi kita jadi kenal dan berteman, contohnya pak Ricklefs (M.C. Ricklefs), saya bilang ini bahasa Belanda itu kan ada pirografi, kalau bahasa Jawa ada? Dia bilang ada, abad ke 15, abad sebelumnya beda-beda. Kosakatanya juga, baru saya mengerti setiap bahasa itu juga mengalami perubahan dari abad ke abad, terus misalnya dengan pak Tony. Saya selalu dialog.
Dulu saya melayani itu dari '71 sampai '80an, pokoknya 14 tahun lebih, saya punya pengalaman, jadi karena mereka tanya saya juga cari sendiri di belakang. Saya baca-baca saya jadi tahu ini dan akhirnya kita memahami. Sampai akhirnya dari UNESCO, saya dapat tugas menyusun seluruh koleksi, cuma koleksinya dari zaman kolonial saja.
(mengambil buku Arsip Sejarah Asia)
Jadi seperti ini, di dunia itu ada sejarah Eropa, dan kita kebagian membuat sejarah Asia. Lalu saya ajak teman arsiparis untuk membuat daftar, karena selain membuat daftar kita harus tahu, misalnya kalau ini dibuat arsip dewan Hindia, dewan Hindia itu apa? Dan itu (penjelasannya) saya yang buat. UNESCO terus bilang, di antara Asia kalian paling cepat.