- VIVA.co.id/M Ali Wafa
![]()
Aslinya teks bahasa apa?
Belanda, ada juga bahasa Perancis, terus kalau ada bahasa Jerman juga mesti disebut. Terus harus saya Inggris-kan, karena ini untuk internasional. Ini saya kerjakan sendiri. Ini setahun selesainya.
Berapa arsip?
Ini yang jadi favorit teman-teman di luar ini, hampir 10 kilometer.
Itu dokumen yang diarsipkan?
Iya. Ini dokumen VOC saja dua kilometer, ini masih ada periode sesudah 1817, sesudah Inggris. Tapi ini baru lembaga, dan dari daerah itu juga masih banyak. Ini favorit para peneliti. Makanya saya suka menyebut tentang budaya lokal, karena banyak, banyak banget mas. Malu kan kita.
Di sini paling lama adalah membuat daftar, karena belum ada daftar sebelumnya. Makanya di sini saya buat daftar beberapa nama arsiparis.
Anda baru saja menerima penghargaan Bakrie Award, apa makna penghargaan itu secara pribadi?
Saya tak kira, kaget, ditelepon mas Bambang. Besoknya mas Ulil datang. Di kepala saya ada beberapa penelitian. Penghargaan itu buat saya semacam memberikan akomodasi karena biaya penelitian kan tak murah. Waktu di sambutan saya katakan, ini mengingatkan saya masih punya utang yang sudah lama ada di dalam hati. Saya harus bayar utang itu. Saya sudah jadwalkan September ini saya harus selesaikan paper saya, saya sudah mulai jalan. Saya tinggal di Tangerang, kalau wara wiri habis waktu. Jadi saya bilang, saya juga perlu untuk biaya hidup di Jakarta. Mungkin saya tinggal satu bulan. Jadi saya tak usah terlalu repot. Kalau nulis kan bisa di rumah karena buku saya di rumah.
Apa yang mau Anda bikin?
Ada dua tentang Jakarta yang belum saya tulis. Satu tentang Kapiten Melayu. Ini akan saya dahulukan karena ada data. Saya pernah tulis artikel berkaitan dengan dia tapi dia punya fungsi yang banyak. Ada persoalan bahasa Melayu juga. Kedua, Jakarta di zaman pemerintahan lokal seperti apa. Itu baru dua. Masih banyak yang lain. Selama diberi umur panjang dan badan tak sakit-sakitan. Makin tua kan suka malas. Mimpi saya baru satu.