- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Kalau orang China beli budak, dia tidak dikerjakan di rumah tangga, tidak jadi babu, dia suruh main wayang, sehingga sekarang kan banyak itu wayang di Betawi. Itu kan gambang kromong, wayang, lenong, itu. Atau kalau laki dia suruh kerja di kebon, orang China itu banyak yang punya kebon tebu. Di daerah saya itu di Tangerang itu perkebunan tebu pertama sebelum cultur stelsel. Nah kalau orang Belanda, budak itu dijadikan pemain orkes, kayak tanjidor, atau jadi babu asuh anak, atau tukang bikin sambal atau merias, macam-macam.
Itu bedanya, satu budak untuk kepentingan ekonomi, satu untuk status, prestise. Tanpa dia sadari pengaruh budak dari orang-orang Belanda itu ada unsure budaya masuk, jadi ada unsur China, Belanda, Arab. Kan kata-kata Betawi ada dari bahasa Belanda, ada kata China. Orang Betawi itu kan kalau bilang 50 mesti bilang gocap. Itu unsur Chinanya.
Unsur ini semua, makanya ada Kapiten Bugis, Kapiten orang dari Flores, Bali, ketika mereka melebur, hilang, pemerintah Belanda bilang enggak bisa lagi komunitas berdasarkan etnis. Nah setelah itu baru muncul Betawi.
Tahun berapa itu?
Sekitar 1830-an, bareng-bareng nanti Arab. Arab sudah masuk, jadi seperti melting pot.China kan sudah ada, terus ada sedikit Belanda, Portugisnya juga ada, nah mereka yang saya bilang itu tidak terima, karena mereka menganggap kita bilang mereka keturunan budak, saya bilang bukan, anda itu budak dari salah satu unsur, unsurnya kan banyak, pedagang dan segala macam.
Orang Betawi kalau dia kawin sama orang di luar etnisnya, terutama dengan China, itu disebut nyai lho. Mbah saya dulu kan disebut Nyai, karena saya punya engkong kan mamanya asli, disebut nyai. Orang Betawi itu kalau si perempuan kawinnya bukan sama orang lokal apa disebut Nyai Belanda, kawin sama orang China dipanggil mak nyai.
Orang bilang sejarah itu tak bisa dipisahkan, ada yang bilang itu hanya dongeng, saya bilang itu tak bisa dipisahkan.