- VIVA.co.id/M Ali Wafa
VIVA.co.id – Di Indonesia, masih sedikit sejarawan yang memiliki determinasi dan juga semangat tinggi layaknya Mona Lohanda. Sejarawan keturunan Betawi-China ini termotivasi mempelajari asal usul leluhurnya, dan mengungkap sejarah masyarakat Jakarta di era kolonial.
Beragam buku dan tulisan sudah ditelurkan Mona. Sebagai ganjaran, beragam penghargaan diraihnya, Paling mutakhir adalah Achmad Bakrie Award, yang didapatkan atas kegigihan dan dedikasi selama ini.
Perempuan yang lahir di Tangerang, Banten, dalam komunitas China Benteng pada 1947 ini, mulai bekerja di Arsip Nasional RI pada 1972 dan pensiun di 2012. Selama bekerja di ANRI, Mona banyak membantu mahasiswa, sarjana, dan peneliti dalam menelusuri arsip.
Mona menyelesaikan pendidikan sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Kemudian melanjutkan pascasarjana di University of London, Inggirs. Lalu mendapatkan gelar Ph.D di Universitas Nijmegen, Belanda.
Sebagai sejarawan, banyak juga yang menentang pendapatnya, terutama ketika Mona menjelaskan leluhur masyarakat Betawi berasal dari budak. Namun, semua itu didapatkannya berdasarkan catatan sejarah penguasa zaman dulu.
Tak hanya itu, dia juga menyebut beragam kelemahan pemimpin masa lalu, sehingga membuat Indonesia sampai bisa dijajah hingga 3,5 abad, oleh Negara yang luasnya lebih kecil dari Propinsi Jawa Barat. Selain itu, kesalahan di masa lalu yang berimbas hingga kini secara budaya.
Semua ini dituturkannya pada VIVA.co.id, 29 Agustus 2016 di sebuah ruangan di lantai basement Gedung C ANRI. Ruang khusus yang disediakan lembaga itu buat Mona, agar perempuan paruh baya ini bisa terus meneliti sejarah.
Bagaimana ceritanya Anda bisa tertarik dengan sejarah?
Semua orang tanya itu sama saya. Saya bilang, saya itu tidak bermimpi untuk masuk jurusan sejarah, saya dari SMP, zaman saya itu SMP itu ada A, B, C. A itu bagian budaya dan sastra, B itu ilmu kepastian alam, C itu ekonomi. Saya masuk B tapi saya lompat ke A. Boleh kan. Begitu lulus SMP, begitu lagi.  Saya enggak mau, saya mau masuk bagian budaya. Terus yang lain heran, orang kan ingin ke bagian B, saya tidak tertarik. Terus, guru saya kebetulan guru sastra itu bilang, anak ini lihat, hasil sastranya semua lebih tinggi. Jadi cocok, akhirnya masuk budaya.